KLIKSUKABUMI.COM - Kasus dugaan pencabulan anak di bawah umur yang melibatkan seorang kakek berinisial MH (72) memicu gelombang kemarahan warga di Kecamatan Sukabumi, Kabupaten Sukabumi.
Masyarakat setempat secara tegas menolak keberadaan terduga pelaku dan mendesaknya untuk segera angkat kaki dari lingkungan permukiman mereka.
Langkah tegas ini diambil warga demi memulihkan rasa aman serta mencegah dampak trauma yang berkepanjangan pada para korban. Ketua RW setempat, Hendra (52), mengungkapkan bahwa keputusan pengusiran tersebut merupakan hasil kesepakatan bulat dari musyawarah warga dan para orang tua korban.
"Dari lingkungan keinginannya si bapak ini jangan tinggal di kita lagi, karena saya khawatirkan trauma ke anak-anak. Penginnya warga saya menolak," tegas Hendra, Selasa (21/7/2026).
Topeng Kebaikan dan Modus Operandi Pelaku
Sebelum kasus ini terbongkar, MH dikenal sebagai warga pendatang yang baru tinggal di lingkungan tersebut selama tiga tahun. Ia berhasil mengelabui para tetangga karena kesehariannya dikenal rajin beribadah.
Namun, topeng tersebut runtuh setelah terungkap aksi bejat yang dilakukannya di sekitar pelataran masjid dan gardu lingkungan setempat. Dalam melancarkan aksinya pada siang hari, terduga pelaku tak segan-segan meraba dan mencium para korban.
Untuk meredam perlawanan, MH memanfaatkan kerentanan anak-anak dengan memberikan ancaman agar mereka tidak melapor, dibarengi dengan iming-iming uang saku bernominal kecil.
"Ada ketakutan karena diancam sama si bapak ini, 'tong bebeja' (jangan bilang-bilang). Sambil dijajani, diberi uang Rp2.000 sampai Rp5.000. Itu pengakuan dari anak-anak," ujar Hendra.
Kasus Terbongkar Lewat Pengajian
Kedok pelaku akhirnya terbongkar setelah salah satu korban memberanikan diri menceritakan perlakuan senonoh tersebut kepada orang tuanya di sela-sela kegiatan pengajian.
Laporan spontan ini langsung memicu investigasi internal di kalangan orang tua hingga akhirnya mendapati total korban mencapai 12 anak perempuan.
"Awalnya ada 7 anak, lalu berkembang. Setelah bada Isya dari ibu yang korban ini dikasih catatan, ternyata ada 13 orang anak perempuan semuanya," tutur Hendra.
Menanggapi kasus ini, pengurus lingkungan telah menyerahkan seluruh data kependudukan serta laporan awal kepada pihak kepolisian. Pihak warga dan pengurus lingkungan berharap proses hukum yang berjalan tetap mengutamakan sensitivitas psikologis para korban yang masih anak-anak.
"Tadi saya sudah ke polisi, jangan ditanya lagi anaknya, kasihan. Takutnya ntar trauma. Tadi mah ada sedikit pengakuan (dari terduga pelaku)," pungkasnya.(FRA)
Editor : Fikri