KLIKSUKABUMI.COM – Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), Nusron Wahid, membandingkan ketangguhan sektor domestik Indonesia dengan Iran. Ia mendorong para santri untuk mulai menguasai teknologi modern demi mewujudkan kemandirian energi nasional di masa depan.
"Iran itu dikepung dunia 40 tahun tetap kuat karena pangan gandumnya swasembada dan energinya surplus," cetus Nusron saat memberikan orasi ilmiah dalam acara Milad ke-26 Yayasan Pendidikan Islam Darul Amal (Yaspida) di Pondok Pesantren Terpadu Darussyifa Al Fithroh, Sukabumi, Jawa Barat, Kamis malam (4/6/2026).
Menurut Nusron, ketangguhan luar biasa Iran tersebut bisa diraih karena struktur pendidikan mereka sangat didominasi oleh tenaga ahli di bidang sains terapan.
Tercatat, sebanyak 92 persen sarjana di Iran merupakan lulusan rumpun STEM (Science, Technology, Engineering, Mathematics).
Sementara itu, porsi sarjana ilmu sosial di negara tersebut hanya mencakup 8 persen saja. "Struktur pendidikan Iran didominasi teknologi, 92 persen sarjananya lulusan STEM. Kita butuh lompatan teknologi seperti ini," jelasnya.
Kondisi global tersebut menjadi refleksi besar bagi Indonesia yang saat ini masih harus mengimpor sekitar 900 ribu barel minyak per hari untuk memenuhi kebutuhan konsumsi dalam negeri.
Nusron menilai, Indonesia saat ini mengalami surplus sarjana ilmu sosial dan agama, namun sangat kekurangan teknokrat eksakta.
"Kita ini surplus sarjana ilmu sosial dan agama, tapi kita sangat kekurangan teknokrat dan ahli eksakta yang siap kerja," kata dia.
Apresiasi Pangan dan Solusi dari Pesantren
Kendati masih berjuang di sektor energi, Nusron mengapresiasi capaian positif Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto yang dalam dua tahun terakhir berhasil menjaga stabilitas pangan tanpa melakukan impor beras.
"Kita harus apresiasi, dua tahun ini di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo, pangan kita stabil dan kita tidak impor beras," ungkapnya.
Guna melanjutkan misi swasembada tersebut dan memperluasnya ke sektor energi, Nusron menyiapkan program beasiswa penuh bagi santri berprestasi yang berhasil kuliah di PTN pada jurusan STEM.
Program beasiswa ini bahkan sudah ia rintis bersama jaringan aktivis kemahasiswaannya sejak tahun 2005 silam.
"Saya ingin santri tidak hanya ahli agama, tapi juga pegang sains agar ilmu pengetahuan punya spirit spiritual dan intelektualitasnya," tuturnya.
Ia juga berpesan, dengan ilmu teknologi tersebut, para santri harus bersiap mengambil tongkat estafet kepemimpinan bangsa dan tidak boleh selamanya berada di posisi pasif.
"Santri tidak boleh selamanya jadi mudhaf ilaih atau ikut di belakang. Harus siap jadi mudhaf, jadi pemimpin di depan saat posisi itu kosong," tegas Nusron menggunakan analogi ilmu nahwu.
Nusron optimis, kolaborasi antara nilai luhur pesantren dan sains akan menjadi motor kemandirian total bangsa.
"Kombinasi kedalaman spiritual pesantren (ilmal ulama) dan penguasaan teknologi mutakhir akan melahirkan kebijakan yang membawa maslahat bagi umat," pungkasnya.
Acara puncak yang berlangsung khidmat ini turut dihadiri oleh jajaran Forkopimda Kabupaten dan Kota Sukabumi, termasuk perwakilan dari Wakil Bupati, Dandim, Kapolres. (FRA)
