KLIKSUKABUMI.COM – Rencana aksi damai ribuan Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) PPPK Paruh Waktu yang tergabung dalam Aliansi Honorer Nasional (AHN) Kabupaten Sukabumi pada Kamis (22/01/2026) pagi, diwarnai ketegangan. Bukan karena bentrokan, melainkan munculnya spanduk misterius yang mencatut nama warga dan sopir angkutan kota (angkot) untuk menolak aksi tersebut.
Tiga buah spanduk terpampang di pepohonan depan Alun-alun Kota Sukabumi, tepat di seberang pintu masuk Gedung Negara Pendopo. Tulisan dalam spanduk tersebut secara tegas menyatakan penolakan terhadap unjuk rasa dengan alasan mengganggu aktivitas usaha dan masyarakat.
Sopir Angkot Merasa Dicatut dan Diadu Domba
Munculnya spanduk tersebut langsung memicu protes keras dari para sopir angkot yang biasa mangkal di sekitar lokasi. Mereka merasa nama profesi mereka disalahgunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.
BS (40), salah satu sopir angkot Trayek 08 Cisaat–Sukabumi, menegaskan bahwa komunitasnya tidak pernah mengeluarkan pernyataan penolakan.
“Iya, kami dari sopir angkot di sini tidak merasa menolak ada demo di Pendopo. Itu tidak benar, kalau tidak percaya silakan tanya saja satu-satu sopir angkot,” tegas BS kepada awak media.
Ia khawatir keberadaan spanduk "siluman" tersebut sengaja dipasang untuk menciptakan konflik horizontal.
“Keberadaan spanduk itu justru berpotensi memecah belah masyarakat kecil dan memicu polemik. Itu bisa mengadu domba kami dengan para pendemo,” tambahnya.
Hal senada disampaikan oleh Boeng (45), sopir angkot Trayek 15 Bhayangkara. Ia menduga spanduk tersebut dipasang secara sembunyi-sembunyi pada dini hari saat situasi sepi.
"Ini jelas-jelas adu domba. Karena kami sebagai sopir angkot maupun warga Kota Sukabumi tidak merasa menolak adanya demo di Pendopo itu," tandas Boeng.
Kesaksian Petugas Parkir
Hermawan, seorang petugas parkir di area Alun-alun, menyebutkan bahwa spanduk tersebut belum ada hingga Rabu malam pukul 22.00 WIB. Ia menduga pemasangan dilakukan sekitar tengah malam. Menurutnya, aksi demonstrasi di Pendopo adalah hal yang lumrah dan bahkan sering membawa berkah bagi pedagang kecil.
“Kenapa keberatan? Dulu juga sering ada demo di sini, sudah biasa. Bahkan para pedagang asongan merasa diuntungkan jika ada demo karena jualan mereka bisa laku keras,” ujar Hermawan.
Aksi Dialihkan Menjadi Dialog Efektif
Meski sempat diwarnai isu penolakan, rencana aksi yang melibatkan sekitar 2.500 massa ini akhirnya dialihkan. Berdasarkan koordinasi dengan pihak kepolisian dan pemerintah daerah, AHN sepakat mengubah format aksi menjadi dialog audiensi di GOR Pemuda Cisaat.
Koordinator Aksi, Mohammad Hadiq Wafid, menjelaskan bahwa keputusan ini diambil agar penyampaian aspirasi berjalan lebih elegan dan menghindari dampak sosial yang tidak diinginkan.
“Kami alihkan ke dialog di GOR Pemuda Cisaat. Kalau ada solusi audiensi yang lebih elegan, tentu itu yang kami pilih,” kata Hadiq.
Respon Kapolres dan Bupati Sukabumi
Kapolres Sukabumi Kota, AKBP Ardian Satrio Utomo, mengapresiasi langkah pengalihan aksi ini sebagai hasil kolaborasi dan komunikasi yang baik antarpihak.
Terkait spanduk penolakan yang meresahkan, pihaknya memilih fokus pada pengamanan audiensi terlebih dahulu.
Sementara itu, Bupati Sukabumi, Asep Japar, mengaku tidak tahu-menahu soal spanduk penolakan tersebut. Ia menjelaskan bahwa pengalihan lokasi audiensi murni karena faktor kapasitas tempat.
“Saya baru dengar juga (ada spanduk penolakan). Maksud saya, kan massanya banyak, kalau di Pendopo terbatas. Makanya dialihkan ke sini (GOR Pemuda Cisaat),” pungkas Asep Japar.
Hingga berita ini diturunkan, situasi di sekitar Pendopo Sukabumi terpantau kondusif, meski keberadaan spanduk misterius tersebut masih menjadi buah bibir di kalangan warga.(FRA)