Perbaikan ini dilakukan untuk memastikan keselamatan dan kelancaran arus lalu lintas pada jembatan existing tersebut.
Pantauan di lokasi pada Jumat (28/11/2025) menunjukkan sejumlah pekerja tengah melakukan pengecoran pada lantai jembatan. Perawatan ini dikabarkan dilakukan secara parsial dan bertahap.
Major Operasional PT Bhineka Mega Utama (BMU), Iman Firmansah, menegaskan bahwa pekerjaan yang sedang berlangsung bukan proyek jembatan baru, melainkan reservasi dan perbaikan struktur lama.
“Ini reservasi ya, perbaikan jembatan lama. Jadi bukan jembatan baru. Kerja inti kami memperkuat pilar yang di bawah itu,” ujar Iman.
Iman menjelaskan, titik krusial perbaikan adalah pilar di bagian bawah arus sungai yang telah mengalami kerusakan dan berlubang, sehingga wajib diperkuat. Ia berulang kali menekankan bahwa proyek BMU sama sekali tidak terkait dengan proyek pembangunan jembatan baru yang saat ini terbengkalai.
“Saya nggak ada urusan dengan jembatan baru yang mangkrak ini. Ini Cipam lama ya, perawatan,” tegasnya.
Untuk mendukung proses pembetonan pilar, pekerja di sisi sungai terpaksa membangun kisdam (tanggul sementara) guna menurunkan permukaan air.
“Tidak mungkin bekerja dalam kondisi air tinggi, jadi harus dikeringkan dulu dan baru kita main beton,” jelas Iman mengenai tantangan di lapangan.
Proyek perbaikan ini menghadapi tantangan waktu yang sangat mendesak, dengan target penyelesaian pada Desember, sebelum pergantian tahun baru.
“Waktu sangat mepet. Pekerjaan ini parsial tapi sangat sulit karena lalu lintas tetap berjalan,” kata Iman.
Kepadatan arus lalu lintas memaksa pelaksana proyek untuk mengutamakan metode manual, menghindari penggunaan alat berat secara optimal agar tidak menimbulkan kemacetan parah.
Menurut Iman, kondisi lapangan juga diperumit oleh jaringan utilitas yang saling tumpang tindih, seperti pipa PDAM dan kabel PLN, di area kerja. Pengamanan air hujan tidak dapat dilakukan sebelum jalur utilitas tersebut dirapikan.
“Kami harus menunggu dulu PLN dan PDAM merapikan jalurnya,” tambahnya.
Proyek perbaikan ini dianggarkan oleh pemerintah. Iman menyebut nilai anggaran berada di kisaran Rp2,1 miliar, meskipun finalisasi anggaran masih berjalan seiring penyesuaian teknis di lapangan.
“Yang penting action dulu karena kondisi di lapangan sudah mendesak,” ucapnya.
Kendala utama selama pelaksanaan, selain kepadatan lalu lintas, adalah faktor cuaca. Iman menyebut, metode pekerjaan yang harus sangat teliti dan menyesuaikan kondisi lapangan menjadikan pekerjaan ini memiliki biaya tinggi. “Metodenya yang mahal karena semua harus dipikirkan matang,” pungkasnya.(VAN)