Keempat mahasiswa tersebut diketahui bernama Gymnastiar (24), Pyriel (24), Farid (24), dan Cristine (24). Insiden yang membahayakan nyawa ini bermula ketika rombongan tengah mendaki untuk keperluan penelitian, namun mengalami kendala navigasi di tengah perjalanan.
Koordinator Pos Basarnas Sukabumi, Suryo Adianto, membenarkan adanya insiden tersebut dan memaparkan awal mula kronologi hilangnya para mahasiswa di kawasan pegunungan itu.
"Kami menerima laporan sekitar pukul 18.34 WIB dari salah satu korban bernama Gymnastiar. Mereka sedang melakukan penelitian pada hari Jumat (2/10), namun saat naik ke atas, mereka baru menyadari bahwa ada kesalahan pada peta yang digunakan, sehingga rombongan tersesat di punggungan Gunung Tanjung," ujar Suryo saat dikonfirmasi pada Sabtu (3/10/2026).
Mendapat informasi tersebut, Pos Pencarian dan Pertolongan (SAR) Sukabumi segera melakukan respons cepat. Sebanyak 7 personel penyelamat dari Pos SAR Sukabumi bersama 2 anggota Babinsa Kecamatan Cisolok langsung dikerahkan ke lokasi kejadian.
"Tim Rescue Pos SAR Sukabumi langsung bergerak pada pukul 19.17 WIB dan tiba di lokasi kejadian pada pukul 19.50 WIB. Cuaca saat operasi terpantau cerah dan tidak ada faktor penghambat di lapangan, sehingga proses pergerakan menuju lokasi terakhir korban bisa dilakukan dengan cepat," jelas Suryo.
Berkat respons yang cepat dan titik koordinat yang jelas, pencarian tidak memakan waktu lama. Setelah melakukan briefing singkat pada pukul 19.55 WIB, tim langsung menyisir area punggungan gunung. Dalam waktu sekitar setengah jam, keempat mahasiswa yang panik tersebut berhasil ditemukan.
"Alhamdulillah, pada pukul 20.25 WIB, Tim SAR Gabungan berhasil menemukan keempat korban di lokasi terakhir mereka berada dengan kondisi selamat. Selanjutnya, para korban dievakuasi dan dibawa ke Kantor Koramil Cisolok. Dengan ditemukannya semua korban, maka Operasi SAR resmi kami tutup dan seluruh unsur dikembalikan ke kesatuan masing-masing," pungkas Suryo.
Operasi SAR dinyatakan resmi ditutup pada pukul 21.45 WIB. Kejadian ini menjadi pengingat penting bagi para pendaki maupun peneliti lapangan untuk selalu memverifikasi akurasi alat navigasi dan peta sebelum memasuki kawasan hutan dan pegunungan.(FKR)
