Foto : Relawan Tim Siaga Bencana Berbasis Masyarakat (Sibat) Evakuasi Lansia di Simulasi Gempa dan TsunamiPelatihan dipusatkan di tiga desa rawan bencana, yakni Desa Cisolok dan Desa Cikahuripan di Kecamatan Cisolok, serta Desa Cidadap di Kecamatan Simpenan. Peserta terdiri dari warga, siswa, perangkat sekolah, serta Tim Siaga Bencana Berbasis Masyarakat (SIBAT).
Mereka dibekali edukasi mengenai tanda-tanda bencana, teknik penyelamatan diri, pemanfaatan jalur evakuasi, hingga penentuan titik kumpul aman.
Staf Palang Merah Jepang untuk Indonesia, Yana Maulana, menjelaskan bahwa pelatihan ini berfokus pada langkah taktis sebelum, saat, dan sesudah bencana.
“Kita melatih masyarakat bagaimana melakukan evakuasi yang benar, apa yang harus dipersiapkan, apa yang harus dilakukan SIBAT, serta bagaimana masyarakat memahami tanda-tanda bencana. Ketika gempa terjadi, masyarakat harus tahu apa yang dilakukan dan bagaimana menuju titik evakuasi dengan aman dan selamat,” ujar Yana.
Yana menambahkan, hasil simulasi menunjukkan peningkatan pemahaman warga yang cukup signifikan.
“Dalam beberapa hari kegiatan ini, kita sudah melatih evakuasi masyarakat di beberapa desa. Rata-rata waktu tempuh dari rumah ke titik aman sementara sekitar 15 sampai 20 menit, masyarakat sudah mulai memahami dan mampu menuju jalur evakuasi sesuai dengan tanda-tanda serta persiapan yang telah diberikan oleh SIBAT dan tim PMI Kabupaten Sukabumi,” katanya.
Selain simulasi, PMI dan JRCS menyerahkan bantuan Basic Emergency Equipment dari masyarakat Jepang kepada pemerintah desa dan tim SIBAT setempat. Bantuan operasional tersebut meliputi tenda darurat, generator set, tandu, laptop, radio komunikasi, mesin chainsaw, headlamp, pengeras suara, helm keselamatan, hingga kit Pertolongan Pertama.
Manfaat pelatihan ini dirasakan langsung oleh warga lokal. Ojah, peserta asal Desa Cikahuripan, mengaku kini lebih paham prosedur keselamatan.
“Sebelumnya kami belum terlalu memahami harus bagaimana ketika terjadi gempa. Setelah mengikuti pelatihan dan simulasi ini, kami jadi tahu bagaimana menyelamatkan diri, mengikuti jalur evakuasi, dan berkumpul di titik yang sudah ditentukan,” ungkap Ojah.
Ia menambahkan bahwa edukasi ini sangat efektif mengurangi potensi panik saat bencana melanda.
“Kami jadi tahu bahwa saat terjadi gempa tidak boleh panik. Kami harus melindungi diri terlebih dahulu, kemudian mengikuti jalur evakuasi dan berkumpul di titik aman. Pengetahuan seperti ini sangat bermanfaat bagi kami dan keluarga,” tambahnya.
Kegiatan kolaboratif ini turut melibatkan BPBD, unsur kecamatan dan desa, Babinsa, serta Bhabinkamtibmas. Pelibatan sektor pendidikan diharapkan dapat menanamkan budaya siaga bencana sejak dini demi mewujudkan masyarakat Kabupaten Sukabumi yang lebih tangguh.(FKR)