BSYpTfG6GpWoBUW6GpCiGpW5BY==
Terkini
klik

18 Hektare Lahan di Jampangtengah Terbakar, KPH Sukabumi Soroti Kerusakan Ekologi dan Ulah Penggarap

18 Hektare Lahan di Jampangtengah Terbakar, KPH Sukabumi Soroti Kerusakan Ekologi dan Ulah Penggarap
Caption Foto : Kepala KPH Sukabumi, Dedy S.J Mulyanto

KLIKSUKABUMI.COM - Kesatuan Pemangku Hutan (KPH) Sukabumi memastikan insiden kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang menghanguskan 18 hektare area di Bagian Kesatuan Pemangku Hutan (BKPH) Bojonglopang, Desa Bojongjengkol, Kecamatan Jampangtengah, Kabupaten Sukabumi, telah berhasil dipadamkan sepenuhnya. Kebakaran yang mulai berkobar pada Minggu (9/8/2026) malam tersebut akhirnya tuntas tertangani berkat sinergi berbagai pihak.

Kepala KPH Sukabumi, Dedy S.J Mulyanto, menjelaskan bahwa upaya pemadaman dilakukan secara intensif dengan melibatkan petugas Polisi Hutan (Polhut), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi, Dinas Pemadam Kebakaran, serta partisipasi aktif masyarakat setempat.

"Kebakaran BKPH Bojonglopang di Kecamatan Jampangtengah itu seluas 18 hektare dan sudah tertangani. Itu kejadiannya kalau gak salah itu hari Minggu dan kita langsung dengan rekan-rekan semuanya terutama BPBD alhamdullilah sudah tertangani," kata Dedy saat diwawancarai pada Selasa (11/8/2026).

Peristiwa kebakaran di kawasan hutan pangkuan Perhutani ini tidak sekadar menghanguskan tegakan pohon, tetapi juga memicu kerusakan ekologi yang sangat serius. Dampak merugikan tersebut meliputi hilangnya keanekaragaman flora dan fauna, penurunan tingkat kesuburan tanah, ancaman erosi, hingga peningkatan emisi karbon yang dapat memperburuk krisis perubahan iklim global. Kerusakan lingkungan di sekitar wilayah tersebut menjadi sorotan utama pihak KPH.

"Tentu saja itu sangat merugikan. Jadi kita tidak hanya rugi yang di atas tegakan tapi juga di tanahnya alami kerugian juga. Bagi kami di faktor ekologis," ungkap Dedy.

Terkait pemicu Karhutla, Dedy mengungkapkan bahwa sumber api berasal dari aktivitas pembukaan lahan oleh para penggarap di sekitar lokasi bekas tebangan yang akhirnya tidak terkendali. Metode pembakaran sering kali dipilih oleh masyarakat sekitar karena dianggap sebagai cara yang paling mudah, murah, dan bersifat tradisional untuk membuka lahan garapan baru.

Pihak KPH Perhutani Sukabumi sejatinya tidak tinggal diam. Mereka telah berulang kali memberikan edukasi dan imbauan kepada para penggarap melalui petugas Polhut di seluruh wilayah agar meninggalkan metode bakar lahan. Namun, pola pikir tradisional dan kebiasaan mencari jalan pintas membuat sosialisasi tersebut kerap diabaikan di lapangan.

"Kita sudah beritahu, sudah kita sosialisasi sama teman-teman Asper, Mantri untuk tidak melakukan pembakaran. Nah itu, memang di lapangan meskipun kita sudah melaksanakan itu namun ada beberapa pihak menganggap pembakaran dalam penggarapan itu dianggap paling mudah dan tradisional, tapi tentu saja itu sangat merugikan," pungkasnya.(FKR)

 18 Hektare Lahan di Jampangtengah Terbakar, KPH Sukabumi Soroti Kerusakan Ekologi dan Ulah Penggarap
Periksa Juga
Next Post
Tautan berhasil disalin