BSYpTfG6GpWoBUW6GpCiGpW5BY==
Terkini
klik

Bahaya dan Ilegal! Pertamina Larang Angkot di Sukabumi Pakai Elpiji 3 Kg sebagai Bahan Bakar

Desakan ekonomi menjadi alasan utama para sopir menempuh cara instan ini.
Bahaya dan Ilegal! Pertamina Larang Angkot di Sukabumi Pakai Elpiji 3 Kg sebagai Bahan Bakar
Hendra Irawan Sopir Angkot Jurusan Sukaraja-Sukabumi Gunakan Gas Elpigi 3Kg Sebagai Pengganti Operasional BBM yang Melambung Tinggi (13/4). (Sumber : Istimewa)
KLIKSUKABUMI.COM – Fenomena sopir angkutan kota (angkot) di Sukabumi yang nekat memodifikasi kendaraan mereka menggunakan Elpiji 3 kg memicu reaksi keras dari PT Pertamina Patra Niaga. 

Penggunaan gas bersubsidi ini dinyatakan sebagai pelanggaran aturan sekaligus ancaman serius bagi keselamatan publik.

Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Barat (JBB), Susanto August Satria, menegaskan bahwa "Gas Melon" memiliki segmentasi konsumen yang telah diatur ketat oleh undang-undang. Kendaraan umum tidak termasuk dalam kategori penerima manfaat tersebut.

"LPG 3 Kg diperuntukkan bagi konsumen rumah tangga, usaha mikro, petani sasaran, dan nelayan sasaran," tegas Susanto saat dihubungi pada Rabu (15/4/2026).

Menurutnya, penggunaan Elpiji bersubsidi untuk kendaraan umum adalah bentuk penyimpangan kebijakan pemerintah yang dapat mengganggu ketersediaan stok bagi masyarakat yang benar-benar berhak.

Risiko Ledakan Mengintai Penumpang

Bukan hanya soal urusan subsidi, aspek keamanan menjadi perhatian utama Pertamina. Modifikasi mesin secara mandiri untuk mengubah bahan bakar minyak (BBM) ke gas rumah tangga dinilai sangat berisiko tinggi.

Mesin kendaraan tidak dirancang untuk memproses gas Elpiji, sehingga instalasi rakitan tersebut rawan mengalami kebocoran yang memicu kebakaran hingga ledakan.

"Aspek keselamatan harus diperhatikan ketika memodifikasi kendaraan, terlebih dalam penggantian bahan bakar," imbuh Susanto.

Sebagai langkah solutif yang aman dan legal, Pertamina menyarankan pelaku transportasi untuk menggunakan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) yang telah memenuhi standar teknis resmi.

Dilema Sopir, Hemat Rp50 Ribu vs Taruhan Nyawa

Di lapangan, desakan ekonomi menjadi alasan utama para sopir menempuh cara instan ini. Hendra Irawan (53), sopir angkot trayek 01 Sukaraja-Kota Sukabumi, mengaku nekat beralih ke gas melon karena tergiur penghematan biaya operasional.

Dalam sehari, Hendra menghabiskan sekitar dua tabung gas untuk delapan kali perjalanan (rit). Hasilnya, ia mampu memangkas pengeluaran cukup signifikan.

"Saya kini bisa menghemat biaya operasional Rp40 ribu hingga Rp50 ribu per hari dibandingkan saat masih menggunakan bensin," ungkap Hendra.

Meski efisiensi ini sangat menggiurkan bagi para pengemudi yang terhimpit biaya hidup, Pertamina tetap bersikap tegas bahwa keamanan penumpang dan ketepatan sasaran energi subsidi tetap menjadi prioritas utama yang tidak bisa ditawar.(FRA)



Editor : Fikri


Bahaya dan Ilegal! Pertamina Larang Angkot di Sukabumi Pakai Elpiji 3 Kg sebagai Bahan Bakar
Periksa Juga
Next Post
Tautan berhasil disalin