KLIKSUKABUMI.COM – Jemari terampil para santri di Pondok Pesantren Kaligrafi Al-Quran Lemka, Kota Sukabumi, kini tidak hanya melukis keindahan di atas kanvas, tetapi juga mengukir prestasi ekonomi yang menjanjikan.
Perpaduan warna estetis dan presisi goresan khat yang dihasilkan para santri ini telah diakui kualitasnya hingga ke mancanegara.
Salah satu santriwati yang menekuni seni ini adalah Nauratul Iffah (18). Gadis asal Aceh ini rela merantau jauh ke Jawa Barat demi mendalami tujuh jenis khat utama, yakni Naskhi, Tsuluts, Diwani, Diwani Jali, Farisi, Kufi, dan Riq’ah.
Proses pembuatan satu karya kaligrafi membutuhkan dedikasi tinggi. Iffah menjelaskan bahwa rata-rata dibutuhkan waktu sekitar 8 jam mulai dari perencanaan hingga penyelesaian akhir.
Menurutnya, jenis khat Tsuluts menjadi yang paling menantang karena aturan teknisnya yang sangat ketat.
"Tsuluts itu seperti buat kepala wau-nya dan lafadz Allah yang kaidahnya lumayan sulit. Sulitnya di kaidahnya," ungkap Iffah, Rabu (4/3/2026).
Iffah menambahkan bahwa setiap karya dimulai dengan sketsa yang sangat teknis.
"Awalnya dibikin sketsa pakai penggaris biar tidak miring, kemudian dibikin sketsa tulisan yang mau kita gores, terus kita gores pakai kalam dan tinta," jelasnya.
Dominasi Lemka di Kancah Internasional
Reputasi Pesantren Lemka sebagai "gudang juara" bukanlah isapan jempol. Pimpinan Pesantren Lemka, Didin Sirojuddin AR, yang mendirikan lembaga ini sejak 9 Agustus 1998, telah berhasil menggembleng metode pembelajaran yang sangat efektif selama 27 tahun.
Keberhasilan ini terbukti pada ajang MTQ Nasional terakhir di Kalimantan Timur.
"Alhamdulillah banyak yang meraih juara-juara baik nasional maupun internasional. Sebagai contoh pada MTQ Nasional terakhir di Kalimantan Timur, seluruh peserta masuk final. Dari total peserta 30 orang, 28 orangnya dari Lemka," terang Didin.
Prestasi tersebut berlanjut ke tingkat ASEAN di Brunei Darussalam, di mana santri Lemka berhasil menyapu bersih juara pertama di empat kategori berbeda.
Pesanan dari Keluarga Sultan Hassanal Bolkiah
Prestasi yang mendunia secara otomatis meningkatkan nilai ekonomi karya santri. Didin menceritakan bahwa karya-karya dari Sukabumi ini kini menjadi buruan kolektor internasional, mulai dari rombongan asal Malaysia hingga pihak Kesultanan Brunei Darussalam.
Didin mengenang momen saat perwakilan keluarga Sultan Hassanal Bolkiah menghubungi langsung untuk memesan dekorasi kaligrafi.
"Ada telepon dari masih keluarga Sultan Hassanal Bolkiah, katanya 'Pak Didin kami ingin mengoleksi dekorasi, bisa tidak empat buah'. Maka saya suruh si Ja'far untuk melukis, satunya Rp4 juta. Berarti kali empat jadi Rp16 juta," kenang Didin.
Hingga saat ini, produk ekonomi kreatif dari Lemka telah menembus pasar negara-negara Islam seperti Turki, Irak, Pakistan, Maroko, hingga Qatar.
Bagi Didin, fenomena ini membuktikan bahwa seni kaligrafi bukan sekadar elemen dakwah, melainkan juga pilar ekonomi mandiri. Ia mengutip pesan dari Ali bin Abi Thalib mengenai filosofi seni khat ini.
“Karena falsafah kaligrafi menyebutkan, hendaknya engkau mempercantik kaligrafimu karena dia itu termasuk kunci-kunci rezeki. Ternyata sekarang terbukti bahwa kaligrafi bisa menjadi sumber usaha,” pungkasnya.(FRA)
Editor : Fikri