BSYpTfG6GpWoBUW6GpCiGpW5BY==
Terkini
klik

10 Tahun Tak Tersentuh Perbaikan, Warga dan Pelajar di Cibadak Sukabumi Terpaksa Bertaruh Nyawa Seberangi Jalur Maut

Jembatan Antar Kampung Akses Ekonomi Warga yang Vital
10 Tahun Tak Tersentuh Perbaikan, Warga dan Pelajar di Cibadak Terpaksa Bertaruh Nyawa Seberangi Jalur Maut
Seorang Warga Ketakutan Saat Melintasi Jembatan Rusak Penghubung Antar Kampung di Desa Karangtengah, Cibadak (31/3). (Sumber : Istimewa)
KLIKSUKABUMI.COM – Sebuah jembatan penghubung antara Kampung Karang Lodaya Hilir dengan Kampung Kamandoran di Desa Karangtengah, Kecamatan Cibadak, kini kondisinya sangat memprihatinkan. 

Jembatan sepanjang 30 meter yang membentang di atas Sungai Cimahi ini menjadi jalur "maut" yang setiap hari harus dilalui warga demi memangkas waktu dan biaya perjalanan.

Jembatan dengan lebar hanya satu meter ini terlihat ringsek dan tidak layak pakai. Dari kejauhan, nampak jelas struktur utamanya yang terbuat dari besi sudah berkarat dan miring di beberapa bagian. 

Bagian lantai jembatan jauh dari kata aman; beberapa balok kayu yang tersisa nampak usang, sementara bagian lantai lainnya yang sudah lapuk dan bolong-bolong terpaksa ditutupi dengan susunan bambu seadanya.

Kondisi yang paling mengkhawatirkan adalah tidak adanya pagar pengaman yang memadai di sepanjang jembatan. Warga yang melintas hanya bisa berpegangan pada pagar besi rendah yang nampak reyot dan tidak stabil. 

Dengan struktur yang sudah tidak lurus dan lantai yang tidak rata, jembatan ini sewaktu-waktu bisa mengancam keselamatan siapa pun yang melintas, terutama di saat hujan ketika lantai bambu menjadi sangat licin.

Akses Utama Meski Nyawa Jadi Taruhan

Bagi warga sekitar, jembatan ini adalah urat nadi aktivitas ekonomi dan pendidikan. Meskipun ketakutan selalu menghantui, warga tidak memiliki banyak pilihan. 

Jalur alternatif lain mengharuskan mereka memutar sejauh 2 kilometer dengan biaya transportasi yang lebih mahal.

Adin (47), warga Kampung Kamandoran, mengaku setiap hari terpaksa melintasi jembatan rusak tersebut setelah pulang bekerja. Menurutnya, kondisi ini sudah berlangsung selama satu dekade tanpa ada perhatian dari pihak terkait.

"Takut sih takut, cuma gimana lagi, ini satu-satunya jalan (terdekat). Kalau lewat jalan lain harus memutar sekitar 2 kilometer. Istri saya bahkan sampai tidak berani lewat sini dan lebih pilih pesan ojek online. Tapi kalau saya ya terpaksa lewat sini terus," ujar Adin saat ditemui di lokasi pada (31/3/2026).

Adin menambahkan bahwa jembatan ini juga menjadi akses vital menuju Tempat Pemakaman Umum (TPU) bagi warga Sekarwangi Karang Tengah.

Kondisi ini kian memprihatinkan bagi anak-anak sekolah. Ardian (13), seorang pelajar SMP yang rutin melintasi jembatan tersebut, menceritakan pengalamannya yang hampir terjatuh akibat alas jembatan yang licin, terutama saat musim hujan.

"Pernah mau jatuh karena licin. Sekarang mendingan karena sudah ada tambahan bambunya, dulu lebih parah. Saya tetap lewat sini karena ongkosnya lebih murah, cuma Rp2.000. Kalau muter lewat jalan atas bisa Rp4.000 dan takut kesiangan sekolah kalau naik angkot," ungkap Ardian.

Harapan Warga kepada Pemerintah

Sudah 10 tahun jembatan ini berdiri tanpa adanya perbaikan permanen. Masyarakat, mulai dari petani, pedagang, hingga pelajar, sangat menggantungkan hidupnya pada akses ini.

Warga berharap Pemerintah Kabupaten maupun pihak terkait segera turun tangan melakukan pembangunan jembatan yang layak. Mereka tidak ingin menunggu jatuhnya korban jiwa sebelum jembatan ini diperbaiki.

"Semoga cepat diperbaiki sama pemerintah. Di sini kan jalan umum, banyak anak sekolah dan tukang dagang yang lewat. Kasihan kalau harus muter jauh terus," tutup Ardian.(FRA)



Editor : Fikri


10 Tahun Tak Tersentuh Perbaikan, Warga dan Pelajar di Cibadak Sukabumi Terpaksa Bertaruh Nyawa Seberangi Jalur Maut
Periksa Juga
Next Post
Tautan berhasil disalin