KLIKSUKABUMI.COM – Memasuki awal Februari 2026, otoritas kesehatan global kembali meningkatkan status kewaspadaan terhadap ancaman Virus Nipah (NiV). Virus mematikan dari keluarga Paramyxoviridae ini memicu kekhawatiran serius menyusul munculnya laporan kasus baru di India dan Bangladesh dengan tingkat fatalitas yang sangat tinggi.
Berdasarkan data terbaru, sejak awal 2025 hingga awal 2026, Bangladesh terus melaporkan kasus fatal yang tersebar di berbagai distrik. India pun kini berada dalam radar bahaya setelah otoritas kesehatan di Bengal Barat mendeteksi adanya klaster baru pada awal tahun ini.
Dengan tingkat kematian (CFR) yang mencapai angka fantastis yakni lebih dari 71 persen Virus Nipah masuk dalam daftar patogen prioritas WHO yang berpotensi memicu wabah besar. Meski skalanya saat ini masih lokal, respons cepat dilakukan secara global guna mencegah penyebaran lintas negara yang lebih luas.
Gejala: Berawal dari Flu, Berakhir pada Radang Otak
Infeksi ini sangat berbahaya karena gejalanya yang sering menipu pada tahap awal. Masa inkubasi virus berkisar antara 4 hingga 14 hari dengan tanda-tanda awal yang menyerupai flu biasa, seperti demam tinggi mendadak, sakit kepala hebat, nyeri otot, hingga mual dan muntah.
Namun, kondisi pasien dapat memburuk secara drastis dalam waktu singkat saat virus mulai menyerang sistem saraf pusat.
Pasien dapat mengalami kebingungan hebat, penurunan kesadaran, kejang, hingga ensefalitis (radang otak) yang mematikan.
Jalur Penularan dan Bahaya Makanan Terkontaminasi
Sebagai penyakit zoonotik, Virus Nipah berpindah dari hewan ke manusia melalui beberapa cara. Selain kontak langsung dengan kelelawar buah atau babi yang terinfeksi, masyarakat diminta mewaspadai konsumsi makanan.
Mengonsumsi buah bekas gigitan kelelawar atau meminum nira mentah yang terkontaminasi urin atau air liur hewan tersebut menjadi jalur penularan yang sangat umum. Selain itu, penularan antarmanusia juga dapat terjadi melalui droplet pernapasan atau cairan tubuh penderita.
Status Indonesia: Siaga Satu di Pintu Masuk Internasional
Hingga awal Februari 2026, Kementerian Kesehatan RI memastikan belum ada kasus Nipah yang terkonfirmasi di Indonesia. Meski demikian, pemerintah telah menetapkan status siaga dengan memperketat penguatan deteksi dini di bandara dan pelabuhan internasional.
Langkah preventif lainnya mencakup skrining ketat bagi pelaku perjalanan yang datang dari negara terdampak seperti India dan Bangladesh. Selain itu, edukasi masif mulai dilakukan kepada seluruh fasilitas kesehatan agar mampu mengenali gejala klinis sejak dini.
Pencegahan Adalah Harga Mati
Hingga saat ini, dunia medis belum memiliki vaksin resmi maupun obat antivirus khusus untuk menangani Nipah. Perawatan yang tersedia saat ini hanya bersifat suportif untuk menjaga fungsi tubuh pasien.
Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk selalu mencuci buah dengan bersih, menghindari konsumsi nira mentah, dan rutin mencuci tangan. Virus Nipah menjadi pengingat keras bahwa kewaspadaan dini adalah kunci utama agar wabah lokal tidak berubah menjadi krisis kesehatan nasional. (FKR)