KLIKSUKABUMI.COM – Unggahan media sosial terkait pembangunan tembok beton di aliran Sungai Ciseureuh, Desa Sangrawayang, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi, sempat memicu polemik.
Narasi yang beredar menuding pembangunan tersebut mempersempit badan sungai secara sewenang-wenang.
Namun, fakta di lapangan menunjukkan hal sebaliknya.
Konstruksi tersebut merupakan Tembok Penahan Tanah (TPT) yang dibangun secara swadaya sebagai aksi darurat untuk menyelamatkan pemukiman warga dari ancaman longsor dan abrasi susulan.
Kondisi kritis ini bermula dari banjir bandang tahun 2024 yang menggerus daratan hingga menyebabkan pondasi rumah warga menggantung di atas aliran sungai.
Aliran sungai dilaporkan telah bergeser drastis sejauh 15 hingga 20 meter, mengikis area yang dulunya merupakan daratan dan pemukiman.
Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Desa Sangrawayang, Heris Sponga, menjelaskan bahwa pembetonan ini adalah langkah terakhir untuk melindungi nyawa dan harta benda warga.
"Itu teh beton. Bikin beton itu karena kemarin kan banjir besar. Jadi kalau enggak dibeton, pasti ke rumah warga, termasuk rumah saya juga pasti habis gitu ya," ujar Heris, Minggu (8/2/2026).
Inisiatif Mandiri Senilai Rp500 Juta
Pembangunan pelindung pemukiman ini dilakukan secara mandiri oleh pemilik lahan, Abdul Sukin (Pak Atok). Ia merogoh kocek pribadi hingga Rp500 juta karena belum adanya solusi konkret dari pemerintah setempat setelah bencana terjadi.
"Ini untuk meringankan pemerintah. Karena faktanya pemerintah cuma datang lihat-lihat, tapi nggak ada solusi. Pak Atok berani berkorban hampir Rp500 juta demi menyelamatkan warga. Kalau enggak dibeton sama ini, ini rumah pasti habis," tegas Heris.
Warga setempat, Ruyatna, menambahkan bahwa lokasi pembangunan tersebut dulunya adalah daratan berbukit. Ia menjadi saksi bagaimana banjir 2024 menghanyutkan fasilitas MCK hingga kandang ternak.
Keberadaan TPT ini terbukti menyelamatkan sedikitnya delapan rumah di bantaran sungai.
Camat Simpenan, Supendi, memberikan apresiasi tinggi terhadap langkah swadaya ini. Menurutnya, aksi mitigasi bencana tersebut sangat membantu pemerintah di tengah keterbatasan anggaran.
"Saya sangat mengapresiasi terutama kaitan kepedulian masyarakat terhadap TPT yang ada di sungai tersebut. Menjaga banjir atau abrasi, dengan efisiensi anggaran pemerintah belum tentu bisa menjawab. Kami sebagai pemerintah tentu mendukung," jelas Supendi.
Selain mengamankan rumah warga, TPT tersebut juga berfungsi melindungi jembatan milik provinsi yang merupakan akses vital menuju kawasan Geopark Ciletuh.
Meski demikian, Supendi memberikan catatan penting agar area tersebut tetap sesuai peruntukannya.
"Harapannya nanti jangan ada bangunan di atasnya ya, karena masuk ke kawasan bantaran sungai. Baiknya ditanam tegakan (pohon) atau sebagai ruang terbuka hijau," pungkasnya.
Reporter : F. Alfi
Editor : Fikri