KLIKSUKABUMI.COM – Harapan petani cabai di Desa Kebonpedes, Kabupaten Sukabumi, untuk meraup untung besar di awal tahun 2026 terbentur realita pahit.
Cuaca ekstrem dengan intensitas hujan tinggi memicu serangan hama patek atau antraknosa secara masif yang merusak kualitas dan kuantitas hasil panen.
Berdasarkan pantauan di lapangan, serangan jamur ini tidak hanya merusak buah, tetapi juga menyerang fisik tanaman secara keseluruhan hingga membusuk.
Kepala Desa Kebonpedes, Dadan Apriandani, menyebut fenomena ini sebagai dampak langsung dari cuaca yang tidak menentu.
"Cuacanya sangat ekstrem, terutama hujan malam. Mayoritas hamanya itu patek atau antraknosa. Batang tanaman membusuk, daun menguning, dan buahnya muncul bercak hitam-hitam lalu busuk," ungkap Dadan saat meninjau lahan, Rabu (11/2/2026).
Kondisi ini terasa kian berat karena serangan hama terjadi saat harga cabai di pasaran sedang melambung tinggi. Saat ini, harga cabai merah keriting (CMK) varietas ori di tingkat petani mencapai Rp55.000 per kilogram.
Di tingkat pengepul, harga sudah menyentuh kisaran Rp65.000 hingga Rp70.000 per kilogram, sementara di pasar konsumen harganya meroket hingga Rp80.000 - Rp90.000 per kilogram.
"Padahal harga sedang bagus. Tapi karena serangan hama patek ini, banyak petani yang akhirnya gagal panen," keluh Dadan.
Melalui program Ketahanan Pangan yang bekerja sama dengan BUMDes Amanah, Desa Kebonpedes sebenarnya telah mengalokasikan lahan seluas setengah hektare untuk komoditas cabai, kubis, dan jagung.
Namun, produktivitas cabai kini merosot tajam dengan tingkat kerusakan mencapai 40 persen dari total luas lahan yang ada.
Pemerintah Desa Kebonpedes kini tengah berupaya keras menyelamatkan sisa tanaman yang masih sehat melalui berbagai langkah agronomis.
Upaya tersebut meliputi penyemprotan fungisida secara berkala untuk menekan penyebaran jamur, sanitasi lahan untuk membersihkan sisa tanaman yang terinfeksi, hingga sortir manual buah yang terkena bercak.
Selain itu, dilakukan pula pengocoran nutrisi tambahan melalui akar untuk memperkuat daya tahan tanaman terhadap penyakit. Hal ini dilakukan agar kerugian petani tidak semakin membengkak.
"Intinya kita lakukan pembersihan pada bercak-bercak hitam itu. Buah yang sakit kita buang agar tidak meluas. Kami terus berupaya agar program ketahanan pangan ini tetap berjalan meski dihantam faktor cuaca," pungkasnya.
Reporter : F. Alfi
Editor : Fikri