KLIKSUKABUMI.COM – Akses air bersih kini menjadi barang mewah bagi warga Kampung Babakansirna, Desa Sirnamekar, Kecamatan Tegalbuleud, Kabupaten Sukabumi. Berada di dataran tinggi dengan kondisi geografis yang sulit, sekitar 30 kepala keluarga (KK) dan santri Pondok Pesantren Almuta’alimin terpaksa bergantung pada seutas selang sepanjang 250 meter yang melintasi derasnya Sungai Cikaso.
Krisis ini bermula dari sulitnya mencari sumber air tanah di wilayah tersebut. Upaya warga membuat sumur gali maupun sumur bor selalu berakhir nihil karena kondisi tanah yang kering.
Perangkat Desa Sirnamekar, Endang Taryana, mengungkapkan bahwa upaya penyediaan air secara mandiri seringkali menemui jalan buntu.
“Kalau bikin sumur gali sering gagal, tidak ada airnya. Dulu pernah ada sumur bor dekat kantor desa, tapi sekarang airnya kering dan tidak berfungsi,” jelas Endang Taryana saat menjelaskan kendala geografis di wilayahnya.
Akibat ketiadaan sumber air di desa sendiri, warga terpaksa "mengimpor" air dari mata air Sungai Sinagar di Desa Bojong. Namun, tantangannya tidak mudah. Mereka harus membentangkan selang panjang melewati aliran Sungai Cikaso.
Bertaruh Nyawa demi Selang Air
Masalah menjadi semakin pelik karena tidak adanya jembatan penghubung antar desa. Setiap kali selang penyalur air mengalami kerusakan atau kebocoran, warga dan santri harus bertaruh nyawa menyeberangi sungai dengan rakit bambu atau bahkan berenang di tengah arus deras.
Pimpinan Ponpes Almuta’alimin, Kyai Saprudin (46), menyebutkan bahwa penderitaan ini bukanlah hal baru, melainkan sudah menjadi makanan sehari-hari selama hampir satu dekade.
“Sudah hampir 10 tahun kami bertahan seperti ini. Kalau selang bocor atau rusak, santri dan warga harus menyeberang sungai pakai rakit bambu, bahkan berenang, karena tidak ada jembatan,” ujar Kyai Saprudin.
Air yang diperoleh dengan perjuangan berat tersebut hanya cukup untuk kebutuhan MCK (mandi, cuci, kakus) dan ibadah. Untuk konsumsi, warga yang memiliki kemampuan finansial lebih memilih membeli air galon. Sementara itu, bagi warga yang kurang mampu, mereka terpaksa merebus air sungai tersebut untuk diminum.
Kini, masyarakat Kampung Babakansirna hanya bisa berharap adanya perhatian dari pemerintah maupun donatur. Mereka sangat membutuhkan pembangunan infrastruktur permanen, baik berupa sarana air bersih maupun jembatan, untuk mengakhiri krisis yang telah membelenggu mereka selama bertahun-tahun.(FRA)