Meski saat ini ia berada dalam pengawasan di penampungan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI), kondisi kesehatannya justru dilaporkan semakin kritis.
Sebuah rekaman video memilukan berdurasi 45 detik diterima oleh redaksi pada Senin (5/1/2026). Dalam video tersebut, Lanti tampak tersengal-sengal menahan sesak napas yang luar biasa sambil memohon bantuan dengan sisa tenaganya.
“Tolong, tolongin saya, udah nggak kuat, udah enggak kuat, tolongin saya, enggak kuat, sakit, sesak, enggak kuat, tolong, sakit,” ucapnya.
Kuasa hukum Lanti, Rangga Suria Danuningrat, angkat bicara mengenai situasi sulit yang dihadapi kliennya. Ia menyayangkan ketidakjelasan proses pemulangan Lanti yang hingga kini masih tertahan di Shanghai.
Rangga membeberkan fakta menyedihkan bahwa Lanti harus bertahan hidup sendirian di tengah kondisi fisik yang terus membengkak. Ia menilai pendampingan terhadap Lanti masih sangat minim.
“Kondisi Lanti di sana sekarang dia enggak ada yang ngurus, dia ngurus dirinya sendiri, kondisi kesehatannya semakin parah, dia sesak, badannya semakin membengkak, di tangan, kaki, wajah, hingga perut semuanya bengkak,” ungkapnya.
Menurut Rangga, persoalan ini harus segera ditangani dengan mengedepankan aspek kemanusiaan ketimbang urusan administratif semata. Ia pun mengeluhkan minimnya respons dari pihak otoritas terkait.
“Ini merupakan perkara kemanusiaan, Lanti dalam kondisi sakit, dia ingin pulang, namun entah diproses atau tidak kami masih mencoba menghubungi KJRI, tapi nyatanya tidak ada respons sama sekali,” tegas Rangga.
Hingga kini, pihak kuasa hukum mengaku masih menunggu kepastian dari pihak KJRI Shanghai. Mereka berharap ada tindakan nyata mengingat komunikasi terakhir tidak membuahkan hasil yang jelas.
“Terakhir kami terhubung dengan KJRI itu satu minggu yang lalu dan belum jelas progres pemulangannya sampai mana,” pungkasnya. (FRA)


