Berdasarkan pendataan awal, getaran gempa paling terasa dan merusak bangunan di dua wilayah utama, yakni Desa Tugu Bandung dan Desa Kabandungan.
Pusdalops BPBD Kabupaten Sukabumi, Daeng Sutisna, menyebut tim P2BK dan aparat gabungan langsung melakukan peninjauan lapangan tak lama setelah getaran mereda.
"Tim gabungan langsung bergerak menyisir Desa Tugu Bandung dan Kabandungan untuk asesmen awal pascagempa," ujar Daeng, Jumat (16/10/2026).
Hasil kajian sementara mencatat sebanyak 17 rumah warga mengalami kerusakan bervariasi. Kejadian ini berdampak langsung pada 52 jiwa dari 17 Kepala Keluarga (KK).
Menyoroti spesifikasi kerusakan bangunan, Daeng memaparkan bahwa dampak guncangan paling banyak menyasar bagian belakang hunian warga.
"Rata-rata kerusakannya berupa retak pada dinding. Titik retakan paling banyak ditemukan di area dapur dan kamar tidur," ungkapnya.
Beruntung, guncangan gempa ini tidak sampai menimbulkan korban jiwa. Pihak BPBD juga mengonfirmasi bahwa rumah warga yang retak masih cukup aman untuk ditempati sebagian.
"Sampai saat ini laporan warga yang harus mengungsi masih nihil. Semuanya dipastikan selamat tanpa ada korban jiwa," tegas Daeng.
Guna mengantisipasi hal yang tidak diinginkan, aparat gabungan yang terdiri atas unsur Babinsa, Bhabinkamtibmas, Satpol PP, dan Tagana masih terus bersiaga. Mereka juga tengah mendata kebutuhan pemulihan fisik bangunan.
"Kami meminta warga tetap tenang dan waspada gempa susulan. Kebutuhan paling mendesak sekarang adalah material bangunan," pungkasnya. (FRA)
