Peristiwa maut ini melanda sebuah bangunan di Kampung Cigadog, RT 001/001, Desa Kertajaya, Kecamatan Simpenan. Petaka tersebut pertama kali disadari oleh warga setempat bernama Usep (40) sekitar pukul 03.25 WIB.
Usep mengaku terkejut saat melihat kobaran api sudah membesar dari dalam warung. Padahal, satu setengah jam sebelumnya atau sekitar pukul 02.00 WIB, warung tersebut masih terpantau tertutup rapat. Melihat hal itu, Usep langsung berlari memberi tahu mertua korban, Cecep (55), sembari berteriak meminta pertolongan warga sekitar.
"Saya mendengar ada suara orang berteriak minta tolong. Pas saya datang ke lokasi, kondisinya sudah terbakar begini. Kalau penyebabnya saya tidak tahu," kata Cecep menceritakan kepanikannya.
Mendengar teriakan tersebut, warga sekitar sempat berjibaku mencoba menjinakkan amukan api dengan alat seadanya. Namun, api yang terlanjur membesar membuat nyawa sang pemilik warung tak terselamatkan. Ima ditemukan tewas dengan luka bakar serius dalam posisi terlentang tepat di dekat pintu samping bangunan.
Menerima laporan insiden tersebut, aparat gabungan dari Polsek Simpenan bersama Tim Inafis dan Sat Reskrim Polres Sukabumi langsung terjun ke lokasi untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP).
Kapolsek Simpenan, AKP Bayu Sunarti, mengungkapkan bahwa percikan api diduga kuat berasal dari masalah kelistrikan yang kemudian menyambar bahan mudah terbakar di dalam bangunan.
"Dugaan sementara api berasal dari korsleting listrik dan langsung menyambar BBM eceran yang disimpan di dalam warung," terang Bayu.
Dugaan ini sejalan dengan temuan petugas di lapangan. Dari hasil olah TKP, polisi mendapati pintu warung terkunci slot dari dalam. Petugas juga menemukan sejumlah jeriken dan botol bekas air mineral berisi bensin eceran yang diletakkan sangat dekat, yakni persis di samping kulkas. Di ruangan yang sama, terdapat pula peralatan elektronik lain yang menyala seperti televisi dan blender.
Kebakaran yang menghanguskan bangunan berukuran 8x4 meter beserta seluruh isinya ini ditaksir menimbulkan kerugian materiel hingga Rp 40 juta.
Usai dievakuasi, pihak keluarga korban memutuskan untuk tidak melakukan autopsi maupun visum lanjutan. Keluarga telah mengikhlaskan kepergian korban sebagai musibah. Jenazah Ima kemudian langsung diserahkan kepada pihak keluarga untuk dimakamkan.(FKR)
