Peresmian museum ini menjadi momentum penting dalam upaya pelestarian cagar budaya sekaligus memperkuat peran bangunan bersejarah sebagai ruang edukasi bagi masyarakat.
Dalam sambutannya, Menteri Kebudayaan Fadli Zon menegaskan bahwa Rumah Pengasingan Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir memiliki nilai historis yang sangat kuat dalam perjalanan kemerdekaan Indonesia. Menurutnya, tempat tersebut menjadi saksi dari dinamika politik penting, termasuk masa peralihan kekuasaan dari pemerintah kolonial Belanda ke pendudukan Jepang.
“Rumah pengasingan ini merupakan salah satu tonggak penting dalam sejarah bangsa Indonesia. Tempat ini menjadi saksi perjalanan dan dinamika sejarah yang penting dalam perjalanan menuju kemerdekaan,” ujar Fadli Zon.
Fadli Zon mengibaratkan sejarah bangsa Indonesia seperti susunan puzzle yang belum sepenuhnya lengkap, sehingga memerlukan penelitian, penelusuran, dan penguatan narasi secara berkelanjutan. Ia juga mengingatkan agar pelestarian cagar budaya tidak berhenti pada pemugaran fisik semata, melainkan harus dihidupkan melalui berbagai kegiatan kemasyarakatan.
“Peresmian hari ini bukan hanya memugar bangunan. Kita berharap tempat ini menjadi bagian yang hidup di tengah masyarakat, terutama untuk menghadirkan nilai dan keteladanan dari para pendahulu kita,” ungkapnya.
Fadli Zon turut mengapresiasi gotong royong dan sinergi antara Kementerian Kebudayaan, Pemerintah Kota Sukabumi, Setukpa Lemdiklat Polri, keluarga besar para pahlawan, serta para seniman yang terlibat dalam mewujudkan revitalisasi museum ini.
Sementara itu, Wali Kota Sukabumi menyampaikan rasa bangga atas terlaksananya revitalisasi dan peresmian museum tersebut. Ia menyebut momen ini sebagai peristiwa bersejarah bagi Kota Sukabumi, mengingat daerah tersebut mengandalkan potensi sejarah, seni, dan budaya sebagai salah satu penopang utama ekonomi daerah.
“Ini menjadi sejarah penting bagi Kota Sukabumi. Saya lahir dan besar di Sukabumi, sehingga saya mengetahui betul bahwa kota ini memiliki banyak potensi sejarah, seni, dan budaya yang perlu terus kita angkat,” kata Wali Kota Sukabumi.
Ia menambahkan, keterbatasan sumber daya alam di Kota Sukabumi mendorong pemerintah daerah untuk mengoptimalkan sektor pariwisata sejarah dan budaya agar mampu menarik minat wisatawan.
“Bagaimana Sukabumi bisa menjadi kota yang dikunjungi? Walaupun kita tidak memiliki sumber daya alam yang besar, kita memiliki sejarah, seni, budaya, dan berbagai potensi yang bisa terus dikembangkan,” lanjutnya.
Revitalisasi yang dilaksanakan pada 2026 ini mencakup pembenahan arsitektur, interior, hingga penyusunan kurasi lini masa perjuangan Bung Hatta dan Bung Sjahrir. Acara peresmian diawali dengan pembacaan puisi tentang Sutan Sjahrir oleh sastrawan Taufiq Ismail, dilanjutkan penandatanganan prasasti, peninjauan museum, serta kunjungan ke Gedung Juang Sumantri Sakimi.
Kegiatan tersebut turut dihadiri oleh Direktur Jenderal Perlindungan Kebudayaan dan Tradisi Dr. Restu Gunawan, M.Hum., jajaran Setukpa Lemdiklat Polri, unsur Forkopimda, DPRD Kota Sukabumi, keluarga besar Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir, kurator, serta para tokoh masyarakat.(FKR)
