KLIKSUKABUMI.COM - Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa Nusantara Daerah Jawa Barat (BEMNUS Jabar) Wilayah Sukabumi Raya menggelar aksi unjuk rasa besar-besaran di depan Gedung Pendopo Sukabumi.
Aksi yang berlangsung di ruas Jalan Raya Ahmad Yani, Kecamatan Warudoyong, Kota Sukabumi pada Senin (22/6) siang ini digelar untuk menyuarakan "rapor merah" terhadap sejumlah kebijakan rezim pemerintahan saat ini.
Mahasiswa menilai banyak kebijakan pusat maupun daerah yang tidak lagi berpihak pada rakyat.
Massa aksi tiba di lokasi sekitar pukul 14.40 WIB dengan membawa berbagai spanduk berisi kecaman. Situasi di depan pintu gerbang Gedung Pendopo sempat memanas ketika mahasiswa melakukan orasi secara bergantian hingga memicu aksi saling dorong dengan petugas kepolisian yang berjaga di lokasi.
Ketegangan terus meningkat hingga pukul 16.02 WIB, di mana massa mulai memblokade Jalan Ahmad Yani dan membakar ban motor di tengah jalan.
Jalannya unjuk rasa ini mendapatkan pengawalan ketat dari personel gabungan Polres Sukabumi Kota, TNI, dan Satpol PP Kabupaten Sukabumi.
Soroti Efektivitas Makan Bergizi Gratis dan Koperasi Merah Putih
Koordinator Wilayah Priangan Barat BEMNUS Jabar, Rahmadi Al Making, menyatakan bahwa aksi turun ke jalan ini merupakan bentuk mosi tidak percaya mahasiswa terhadap berbagai kebijakan di bawah rezim Prabowo-Gibran.
Beberapa isu krusial yang mereka soroti antara lain melemahnya nilai tukar rupiah hingga mandeknya pembahasan RUU Perampasan Aset selama 17 bulan di parlemen.
"Kami menyoroti program prioritas seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Kawasan Daerah Militer Produktif (KDMP) yang saat ini kami nilai kurang efektif dan efisien. Program MBG yang harusnya menargetkan penurunan stunting di wilayah 3T justru dipukul rata, sehingga banyak yang mubazir di daerah yang ekonominya mampu," ujar Rahmadi di sela-sela aksi.
Selain masalah anggaran APBN yang dianggap tidak tepat sasaran, BEMNUS Jabar juga mengkritisi program KDMP atau Koperasi Merah Putih di Kabupaten Sukabumi.
Mereka menilai pembangunannya jauh dari kata sempurna, berada di wilayah hutan tanpa kejelasan strategis, serta melibatkan aparat terlalu jauh dalam ranah sipil yang dinilai mencederai semangat Reformasi 1998.
"Ketika TNI-Polri ditarik terlalu jauh masuk ke ranah sipil, ini memperkuat status quo dan mencederai reformasi yang dulu diperjuangkan dengan darah dan nyawa. Ditambah lagi dengan kabinet yang gemuk diisi oleh ketua umum partai politik, fungsi pengawasan DPR menjadi mandul karena semua masuk koalisi. Oleh karena itu, kami juga mendukung penuh gerakan Reformasi Jilid Dua untuk evaluasi total kabinet," tegas Rahmadi.
Mahasiswa Bertahan hingga Malam
Melalui aksi ini, BEMNUS Jabar mendesak Bupati Sukabumi dan DPRD Kabupaten Sukabumi untuk segera mengambil sikap tegas, mengevaluasi program-program di daerah, serta merekomendasikan aspirasi mahasiswa ini langsung ke DPR RI dan pemerintah pusat.
Hingga pukul 17.00 WIB, massa mahasiswa terpantau masih memilih bertahan di depan Gedung Pendopo Sukabumi.
Mereka menegaskan tidak akan membubarkan diri sebelum ditemui langsung oleh Bupati Sukabumi atau Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Sukabumi untuk menyerahkan poin tuntutan secara langsung.
"Kondisi bangsa saat ini sedang tidak baik-baik saja dan warga terdampak. Kami melihat Bupati seolah-olah abai dan tidak mendengarkan. Kami tidak akan menerima perwakilan lain selain Bupati atau Pak Sekda, dan kami siap bertahan di sini hingga malam sampai ada iktikad baik," pungkas Rahmadi. (FRA)
