| Ilustrasi Rupiah Melemah (Sumber : Istimewa) |
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan beban fiskal dalam negeri akibat lonjakan harga minyak dunia menjadi faktor utama yang menekan posisi rupiah.
Sentimen negatif pasar dipicu oleh ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran terkait pembukaan kembali Selat Hormuz. Presiden AS Donald Trump memberikan tenggat waktu tegas bagi Iran untuk membuka jalur logistik energi vital tersebut.
"Upaya diplomatik untuk meredakan konflik tampaknya goyah. Iran menolak proposal yang didukung AS yang menguraikan gencatan senjata 45 hari dan pembukaan kembali selat secara bertahap," ujar Pengamat Ekonomi dan Mata Uang, Ibrahim Assuaibi, dalam keterangannya dikutip dari Liputan6 pada Selasa (7/4/2026).
Trump memperingatkan bahwa kegagalan kesepakatan ini dapat memicu serangan militer AS terhadap infrastruktur Iran. Hal ini mendorong harga minyak dunia melambung tinggi hingga menyentuh USD 113 per barel, jauh melampaui asumsi APBN 2026 yang hanya sebesar USD 70 per barel.
"Fokus Sasaran Subsidi Mesti Dipertajam. Ketika harga minyak melonjak ke USD 113 per barel, yang berarti lebih dari 60% di atas asumsi APBN, tekanan fiskal langsung terasa melalui pembengkakan subsidi dan kompensasi," tambah Ibrahim.
Dilema Subsidi Energi di Dalam Negeri
Selain faktor global, masalah internal terkait efektivitas subsidi energi turut memperparah sentimen terhadap rupiah. Desain subsidi berbasis komoditas dinilai masih bocor dan dinikmati oleh kelompok masyarakat mampu, sehingga membebani anggaran negara.
Ibrahim menyoroti bahwa BBM bersubsidi saat ini masih bisa diakses tanpa pembatasan yang jelas.
"Kondisi ini membuat distribusi subsidi tidak sepenuhnya dinikmati kelompok yang berhak dan berisiko menimbulkan ketimpangan di lapangan. Kelompok seperti nelayan yang berhak justru berpotensi kekurangan pasokan," tegasnya.
Langkah Darurat Bank Indonesia
Menanggapi rupiah yang mencapai titik terendah sepanjang masa, Bank Indonesia (BI) menyatakan telah melakukan intervensi besar-besaran untuk menjaga stabilitas pasar.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, menegaskan bahwa stabilisasi rupiah adalah prioritas utama BI di tengah dinamika perang AS-Iran.
"Menstabilkan rupiah tentu menjadi prioritas utama kami saat ini. Kami akan menggunakan setiap instrumen dan kebijakan yang kami miliki, kami akan mengerahkan semua upaya,” ujar Destry sebagaimana dikutip dari Channel News Asia.
BI melakukan intervensi di pasar spot dan pasar forward non-deliverable (FND), serta bersiap membeli obligasi pemerintah di pasar sekunder. Selain itu, BI berupaya meningkatkan daya tarik Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk memacu arus modal masuk.
Sepanjang tahun 2026, rupiah tercatat telah melemah lebih dari 2% terhadap dolar AS, sejalan dengan tren penurunan mata uang regional lainnya akibat ketidakpastian ekonomi global. Investor kini juga tengah menanti data inflasi AS yang akan dirilis Jumat mendatang untuk membaca arah kebijakan suku bunga The Fed.(FRA)
Editor : Fikri