| Ilustrasi (Sumber : Istimewa) |
Bukan karena serangan fisik, melainkan karena meroketnya harga kemasan plastik hingga tiga kali lipat. Kenaikan drastis ini membuat para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) kian terhimpit antara biaya produksi yang membengkak dan daya beli masyarakat yang stagnan.
Keresahan ini dirasakan langsung oleh Dian Hardiani, warga Kecamatan Ciemas sekaligus pemilik merek dagang Sanca (Sagala Olahan Cau).
Produk keripik pisang unggulannya kini terancam berhenti produksi karena tingginya biaya pengemasan.
Menurut Dian, kondisi ini merata dirasakan oleh rekan sejawatnya. Banyak yang memilih berhenti produksi kecuali jika ada pesanan masuk dalam jumlah besar.
"Iya banyak terdampak juga bahkan semua rekan pada ngeluh dari plastik, minyak juga ya merek kebanyakan belum mulai produksi kalau produksi pun ada PO orderan langsung. Kalau untuk produksi berkelanjutan off gitu," ungkap Dian saat diwawancarai oleh Kliksukabumi pada Selasa (7/4/2026).
Dian juga mengaku kebingungan mencari solusi praktis. Mengurangi porsi atau gramasi produk bukan perkara mudah karena akan memakan biaya tambahan untuk mencetak ulang stiker kemasan.
"Untuk mengakali dari penjualan kalau untuk merubah gram-an kayaknya saya gak bisa, mungkin kalau modalnya besar bisa-bisa aja biar dia cetak lagi stiker itu dikurangi gramitasinya rekan yang lain mah. Gak tau ngakalinnya gimana, masa harus dibungkus daun pisang gitu kan produknya kayaknya gimana juga ya," tambahnya.
Respon Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Sukabumi
Menanggapi jeritan para pelaku usaha, Pemerintah Kabupaten Sukabumi melalui Dinas Koperasi dan UMKM (DKUKM) tidak tinggal diam.
Kepala Dinas KUMKM, Sri Hastuty Harahap, menyatakan bahwa pihaknya tengah mengkaji berbagai solusi untuk menjaga daya saing produk lokal.
"Kami memahami bahwa kenaikan harga kemasan plastik menjadi salah satu kendala bagi pelaku UMKM dalam menjaga efisiensi biaya produksi dan daya saing produk. Kondisi ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti kenaikan harga bahan baku, distribusi, serta dinamika pasar global," kata Sri Hastuty kepada Kliksukabumi.
Ia menuturkan bahwa Dinas KUMKM berkomitmen untuk hadir memberikan solusi dan pendampingan agar pelaku UMKM tetap dapat berkembang dan bertahan di tengah tantangan tersebut.
Dinas KUMKM berencana akan mendorong pelaku UMKM untuk bergabung dalam koperasi atau kelompok usaha agar dapat melakukan pembelian kemasan secara kolektif (bulk), sehingga harga menjadi lebih murah.
Dinas KUMKM juga telah menyusun enam langkah strategis untuk memitigasi dampak perang Timur Tengah terhadap UMKM Sukabumi.
Mulai dari mengonsolidasikan UMKM dalam koperasi untuk daya tawar harga kemudian berkoordinasi dengan Disdagin untuk menghubungkan UMKM langsung dengan distributor besar.
Tak hanya itu, dinas pun aman mengenalkan alternatif kemasan ramah lingkungan seperti kertas food grade atau bahan biodegradable.
"Kita (Dinas) juga akan mengupayakan subsidi kemasan sesuai ketersediaan anggaran daerah, mendorong penyederhanaan desain kemasan namun tetap menarik dan menyampaikan aspirasi daerah ke tingkat pusat demi stabilitas harga bahan baku," tambah Sri Hastuty.
Pemerintah berharap dengan kolaborasi yang kuat, UMKM di Kabupaten Sukabumi tidak hanya sekadar bertahan, tetapi mampu berinovasi di tengah ketidakpastian ekonomi global yang sedang berlangsung.(FRA)
Editor : Fikri