| Kondisi Jembatan Darurat Penghubung Kampung Tanggeng dan Kampung Cipiit, Desa Sukamaju, Kecamatan Nyalindung Kabupaten Sukabumi Terhantam Banjir Bandang pada Senin (14/4) Sore. (Sumber : Istimewa) |
Ironisnya, jembatan berbahan bambu ini baru berusia sekitar tiga bulan. Infrastruktur swadaya tersebut baru saja diresmikan pada Januari 2026 melalui hasil gotong royong warga bersama Yayasan Sehati Bergerak Bersama dan Palang Merah Indonesia (PMI).
Tingginya intensitas hujan yang mengguyur wilayah selatan Sukabumi secara terus-menerus memicu peningkatan debit air sungai yang sangat drastis. Konstruksi jembatan yang didominasi material bambu tidak kuasa menahan terjangan arus deras hingga akhirnya putus total dan terbawa banjir.
Founder Yayasan Sehati Bergerak Bersama, Andri Kurniawan, mengonfirmasi bahwa cuaca ekstrem menjadi faktor utama penyebab kerusakan tersebut.
"Mungkin karena hujan sangat deras hari ini dan beberapa hari lalu, dampaknya jembatan darurat yang kita bangun tiga bulan lalu hari ini terbawa lagi oleh banjir," ujar Andri saat dikonfirmasi di lokasi kejadian, Selasa (14/4/2026).
Lumpuhnya jembatan ini berdampak luas pada urat nadi kehidupan masyarakat. Selain memutus interaksi sosial antar-kampung, mobilitas pelajar dan kegiatan ekonomi warga kini terhambat serius.
Andri menjelaskan bahwa ketiadaan jembatan memaksa warga mengambil risiko atau menempuh jarak yang jauh lebih lama.
"Saat ini warga terpaksa menggunakan jalur alternatif yang lebih jauh. Akses ini sangat penting karena menjadi jalur utama ekonomi dan anak-anak sekolah," tambahnya.
Melihat kejadian yang terus berulang, Andri menilai pemberian solusi jangka pendek berupa jembatan darurat tidak lagi memadai untuk menghadapi tantangan alam di wilayah Nyalindung.
Ia mendesak pemerintah daerah untuk segera turun tangan membangun jembatan permanen agar mobilitas warga lebih terjamin dan aman.
"Harapan saya, mudah-mudahan pemerintah segera memberikan penanganan yang begitu cepat. Supaya akses warga ke dua kampung ini bisa kembali berjalan normal," tegas Andri.
Hingga berita ini diturunkan, sisa-sisa material bambu masih tampak tersangkut di aliran sungai. Warga kini hanya bisa berharap adanya solusi nyata dari pemerintah sebelum dampak kerugian ekonomi dan sosial semakin meluas.(FRA)
Editor : Fikri