Bencana ini bermula sekitar pukul 18.30 WIB saat hujan deras mengguyur wilayah tersebut tanpa henti. Debit air yang meningkat drastis memicu luapan sungai yang langsung menggenangi hamparan sawah di Kampung Sukagalih dan Kampung Leuwi Waluh.
Salah seorang warga setempat, Yusuf, menceritakan betapa mencekamnya situasi saat air bah tiba-tiba mengepung area persawahan.
"Airnya cepat sekali naik, kami tidak sempat berbuat apa-apa. Sawah yang sudah kuning dan mau panen langsung terendam lumpur. Banyak sekali yang rusak," tutur Yusuf, Kamis (23/4/2026).
Berdasarkan data lapangan, kerusakan paling parah terkonsentrasi di Kelompok Tani (Poktan) Sukagalih dengan luas mencapai 2,03 hektare.
Kerusakan serupa juga meluas ke wilayah lain, di mana Poktan Kampung Mekar kehilangan 1,2 hektare lahan, disusul Poktan Leuwi Waluh seluas 0,85 hektare, dan Poktan Cisalimar sekitar 0,3 hektare.
Yusuf menjelaskan bahwa kondisi ini merupakan kerugian besar bagi warga, karena padi yang rusak adalah sumber penghidupan utama mereka musim ini.
"Sudah dekat panen, tinggal hitungan hari sebenarnya, tapi sekarang semuanya rusak. Petani di sini jelas rugi besar karena modalnya sudah keluar semua untuk pupuk dan perawatan," tambahnya.
Meskipun tidak ada korban jiwa dalam musibah ini, dampak ekonomi yang ditinggalkan sangat berat.
Para petani kini hanya bisa menatap nanar sawah mereka yang rata dengan tanah. Mereka sangat menggantungkan harapan pada uluran tangan pemerintah setempat untuk kembali bangkit.
"Kami hanya orang kecil, kalau sudah begini hanya bisa berharap ada bantuan dari pemerintah. Kami butuh bantuan untuk pemulihan lahan supaya bisa tanam lagi," pungkas. (FRA)
