| Kantor Dinas Kesehatan Kota Sukabumi di Jl. Surya Kencana No.41, Selabatu, Kec. Cikole, Kota Sukabumi (Sumber : Istimewa) |
KLIKSUKABUMI.COM – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Sukabumi melaporkan temuan 23 kasus positif campak dalam kurun waktu akhir tahun 2025 hingga Maret 2026.
Temuan ini merupakan hasil dari pemantauan ketat dan penyelidikan epidemiologi aktif terhadap keluhan kesehatan masyarakat yang menunjukkan gejala serupa campak.
Meskipun terdapat puluhan kasus, Kepala Dinkes Kota Sukabumi, Ida Halimah, menegaskan bahwa situasi saat ini masih terkendali. Pemerintah kota belum merasa perlu menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB).
"Hingga saat ini, kami menilai belum diperlukan penetapan status KLB akibat penyakit campak. Namun, upaya pencegahan tetap dilakukan secara intensif untuk mengantisipasi penyebaran yang lebih luas," ujar Ida.
Hasil Uji Laboratorium dan Kondisi Terkini
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Sukabumi, Denna Yuliavina, merinci bahwa awalnya ditemukan 32 kasus suspek di lapangan.
Namun, setelah melalui uji laboratorium, hanya 23 kasus yang dinyatakan positif.
Denna memberikan gambaran mengenai posisi Indonesia dan Jawa Barat terkait tren penyakit ini untuk memberikan konteks kewaspadaan.
“Indonesia sendiri mendapatkan peringkat kedua tertinggi setelah Yaman dalam kasus campak. Kemudian di Jawa Barat ada 9 daerah yang menetapkan kejadian luar biasa, namun alhamdulillah untuk Kota Sukabumi (tidak). Walau ada peningkatan kasus di tahun 2025, tetapi (jumlah kasus) cukup melandai di tahun 2026 ini. Belum ada kasus kematian akibat campak di Kota Sukabumi,” jelas Denna pada Senin (16/3/2026).
Imbauan Menjelang Arus Mudik
Mengingat saat ini memasuki masa arus mudik yang identik dengan kerumunan massa, Dinkes meminta masyarakat untuk memperketat protokol kesehatan mandiri. Penggunaan masker dan menjaga kebersihan menjadi kunci utama.
“Apalagi memang sekarang situasi arus mudik, yang berpotensi memicu peningkatan massa atau kerumunan itu tinggi. Sehingga harus senantiasa waspada di lingkungan yang ramai. Kalau memungkinkan tetap menjaga jarak, memakai masker, menerapkan PHBS, dan makan makanan bergizi,” tambahnya.
Salah satu faktor keberhasilan Sukabumi menahan laju KLB adalah tingginya angka imunisasi. Pada tahun 2025, cakupan imunisasi dasar lengkap di Kota Sukabumi mencapai 98,9 persen, melampaui standar nasional.
Meski demikian, Denna mengingatkan bahwa celah sekecil apa pun tetap berisiko bagi kelompok rentan.
“Namun perlu diingat, berarti sisanya belum divaksin, sekitar 1,1 persen ada anak balita yang belum mendapatkan vaksin tersebut. Kemungkinan tidak diimunisasi bisa dari internal orang tua atau pengasuh, atau karena terkait pelayanan imunisasi,” sambung Denna.
Sebagai penutup, Dinas Kesehatan mengimbau para orang tua untuk memastikan anak-anak mereka mendapatkan asupan gizi yang cukup serta menjaga kebersihan lingkungan sekitar demi memutus rantai penularan campak.(FRA)
Editor : Fikri