KLIKSUKABUMI.COM – Lembaran kalender Februari 2026 di Sukabumi tidak hanya diisi oleh guyuran hujan deras dan hiruk-pikuk pembangunan.
Bulan ini akan selamanya diingat sebagai masa di mana hati nurani publik terkoyak oleh tragedi kemanusiaan memilukan dari pesisir selatan, sekaligus ujian berat bagi ketangguhan warga menghadapi bencana.
Redaksi Kliksukabumi merangkumnya dalam sebuah Kaleidoskop khas Kliksukabumi. Berikut daftar tragedi, peristiwa dan penanganan pemerintah pada Februari 2026.
1. Surade Berduka: Menguak Tabir Kematian Tragis NS
Peristiwa yang paling menyita perhatian nasional adalah kasus kematian bocah laki-laki berusia 12 tahun berinisial NS di Surade. Awalnya, kematian ini diselimuti misteri hingga akhirnya terungkap dugaan penganiayaan keji yang melibatkan ibu tirinya sendiri, TR.
Dinamika kasus ini bergerak sangat cepat. Berawal dari penemuan luka-luka tak wajar pada jasad korban, ibu kandung korban, Lisnawati, dengan berani menuntut keadilan ke Polres Sukabumi. Perjuangannya membuahkan hasil dengan ditetapkannya TR sebagai tersangka.
"Hati saya hancur, saya hanya ingin keadilan bagi anak saya. Kebenaran tidak boleh terkubur bersama jasadnya," ungkap Lisnawati dengan suara bergetar.
Kasus ini menjadi alarm keras bagi perlindungan anak di Sukabumi, terutama dengan munculnya isu child grooming yang juga sempat viral di lingkungan pendidikan setempat pada bulan yang sama.
2. Keamanan Publik: Ancaman Geng Motor dan Narkoba
Di wilayah perkotaan, ketenangan warga terusik oleh aksi geng motor yang kembali berulah, khususnya di wilayah Cibadak.
Polisi terpaksa mengambil tindakan tegas terhadap pemuda yang kedapatan membawa senjata tajam di tengah malam.
Di sisi lain, Satnarkoba Polres Sukabumi Kota juga berhasil membongkar jaringan peredaran obat terlarang, membuktikan bahwa ancaman terhadap generasi muda datang dari berbagai arah.
3. Alam yang Bergejolak: Sukabumi Dikepung Bencana
Secara geografis, Februari 2026 menjadi ujian berat. Cuaca ekstrem memicu rentetan bencana mulai dari longsor, banjir, hingga pergerakan tanah di Bantargadung dan sekitarnya.
Material longsor sempat menutup akses menuju Curug Cibeureum, sementara belasan rumah warga dilaporkan rusak akibat rekahan tanah yang semakin lebar.
Tim BPBD pun harus bekerja ekstra keras melakukan evakuasi dan memberikan peringatan dini di tengah curah hujan yang tidak menentu.
4. Ironi Pembangunan: Megahnya Tol Bocimi vs Jalan Rusak Kabupaten Sukabumi
Di sektor infrastruktur, muncul kontras yang tajam. Warga memang menyambut gembira pembukaan fungsional Tol Bocimi Seksi 3 yang berhasil mengurai kemacetan hingga 15 ribu kendaraan saat libur Imlek.
Namun, "jeritan" warga di pelosok tak kalah nyaring. Sebuah video protes siswa SD di Tegalbuleud viral di media sosial, memperlihatkan mereka harus bertaruh nyawa menerjang lumpur karena jalan kabupaten tak kunjung diperbaiki selama sepuluh tahun.
Kondisi ini menjadi kritik pedas di tengah masifnya pembangunan tol.
5. Harapan di Ambang Ramadan
Menutup lembaran Februari, Sukabumi mencoba bangkit dengan wajah toleransi. Predikat sebagai Kota Toleran menjadi modal sosial yang kuat saat warga mulai bersiap menyambut bulan suci Ramadan.
Meskipun hasil pantauan hilal di POB Cibeas pada akhir Februari belum menunjukkan tanda-tanda secara kasat mata, antusiasme warga di pasar-pasar tradisional mulai terasa.
Ada secercah harapan yang dibawa masyarakat untuk memulai lembaran baru yang lebih damai di tengah berbagai kemelut yang terjadi. (FRA)
Editor : Fikri