BSYpTfG6GpWoBUW6GpCiGpW5BY==
Terkini
klik

Terjerat TPPO dan Terkapar Sakit di Shanghai, Kisah Pilu PMI Asal Sukabumi Butuh Bantuan Pulang

Korban diketahui berangkat ke luar negeri sejak tahun 2019
Terjerat TPPO dan Terkapar Sakit di Shanghai, Kisah Pilu PMI Asal Sukabumi Butuh Bantuan Pulang
Citamiang, Kota Sukabumi — Nasib pilu menimpa Lanti (46), seorang Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Kelurahan/Kecamatan Citamiang, Kota Sukabumi. Niatnya mulia, yaitu mencari nafkah untuk membiayai sang anak, namun Lanti justru terjerat kasus Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) dan kini terkapar sakit di Shanghai, Tiongkok, tanpa bisa kembali ke tanah air.

Lanti diketahui berangkat ke luar negeri sejak tahun 2019. Kakak kandung korban, Isop (55), menceritakan bahwa perjalanan adiknya tidak sesuai rencana awal.

"Awalnya dia bilang mau kerja ke Hong Kong, tahu-tahu dia ke Hong Kongnya masih lama, jadi ada yang ngasih visa turis. Tujuannya dulu ke Hong Kong, tapi jadi ke Cina, di Shanghai," tutur Isop kepada awak media, Senin (15/12/2025).

Penempatan Lanti di Shanghai menggunakan visa turis, alih-alih visa kerja yang sah, kuat mengindikasikan adanya praktik TPPO yang membelitnya.


Kondisi Kritis dan Permintaan Tebusan Rp50 Juta


Penderitaan Lanti mulai terkuak pada Juli 2025. Ia menghubungi keluarganya di Sukabumi dan mengabarkan kondisi kesehatannya yang mulai menurun.

"Dulunya dia ngabarin Ibu, 'Teteh aku sakit, ada benjolan di perut, baru kecil belum besar.' Kata Ibu, 'Udah aja pulang.' Kata dia, 'Belum ada uangnya, mau pulang gimana'," ujar Isop menirukan percakapan adiknya.

Setelah komunikasi sempat terputus, kabar yang diterima keluarga semakin mengkhawatirkan. Lanti mengabarkan kondisinya memburuk drastis dan perutnya membesar.

"Dari situ enggak ada kabar lagi bulan Juli. (Lanti bilang) 'Perut aku cenah membesar, ini sakit.' Jadi langsung membesar. 'Aku mau pulang,' (kata Lanti). Tapi kalau mau pulang, bikin surat-surat harus ada uang Rp50 juta. 'Tapi aku dari mana'," lanjut Isop, mengutip permintaan uang tebusan yang harus dipenuhi agar Lanti bisa dipulangkan.

Kondisi Lanti saat ini sangat memprihatinkan. Berdasarkan video call dan video terakhir yang dikirim, Lanti terlihat mengalami pembengkakan di sekujur tubuh. Ia dikabarkan menderita komplikasi penyakit, termasuk masalah jantung dan TBC, yang menjadi penyebab utama perutnya membengkak.

"Katanya dia sudah di medikal jantung sama TBC, itu perut membengkak. Komplikasi," kata Isop.

Lanti, yang merupakan anak bungsu dari lima bersaudara, nekat menjadi PMI demi membiayai anak tunggalnya. Anaknya saat ini berusia 18 tahun dan tengah menempuh pendidikan di kelas 2 SMA, sekaligus menjadi santri Tahfidz Al-Qur'an di Depok.

"Keuangan. Punya anak untuk membiayai anak satu. Kan di sini uangnya terbatas di Indonesia. Cari ke situ yang agak lumayan, tapi nyatanya gini nasibnya," ungkap Isop.

Meskipun sempat mengirimkan uang untuk anaknya, Lanti kini sangat menyesali keputusannya mencari nafkah ke luar negeri karena kondisi kesehatannya memburuk drastis.

"Dia itu rasa hanjakal sekarang juga. Baru sekarang kerasanya," tutup Isop.


Harapan Keluarga: Pemerintah Turun Tangan


Pihak keluarga, terutama sang ibu, sangat mengharapkan adanya bantuan cepat dari pemerintah atau pihak terkait untuk memulangkan Lanti. Kondisi sakit beratnya menjadi alasan mendesak agar ia segera mendapatkan perawatan intensif dan bisa kembali berkumpul dengan anak dan keluarganya.

"Harapan Ibu mah ada yang bisa memulangi dia secepatnya karena Ibu udah lama enggak ketemu. Kasihan anaknya, berangkatnya lagi kecil. Sekarang udah gede," tuturnya.(FRA)

Terjerat TPPO dan Terkapar Sakit di Shanghai, Kisah Pilu PMI Asal Sukabumi Butuh Bantuan Pulang
Periksa Juga
Next Post
Tautan berhasil disalin