Acara ini dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, di antaranya pimpinan Ponpes Dzikir Al-Fath, Ketua IPSI Kota Sukabumi, KORMI Sukabumi, serta Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Sukabumi. Kolaborasi ini menunjukkan sinergi kuat antar-lembaga dalam menjaga aset budaya daerah.
Dalam arahannya, Bobby Maulana menyatakan bahwa pelestarian WBTB merupakan langkah strategis untuk menjaga identitas bangsa di tengah gempuran modernisasi. Ia memandang budaya sebagai elemen yang tidak bisa dipisahkan dari kemajuan sebuah kota.
"WBTB tidak hanya menjadi peninggalan masa lalu, tetapi juga merupakan nilai hidup, kearifan lokal, serta jati diri yang harus terus dijaga dan diwariskan kepada generasi muda," tegas Bobby Maulana dalam sambutannya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa pembangunan yang berkelanjutan harus menyentuh aspek non-fisik. Hal ini sejalan dengan tema HUT ke-112 Kota Sukabumi, yakni "Harmonisasi dan Kolaborasi Bersama Membangun Kota". Menurutnya, pembangunan karakter dan identitas masyarakat adalah kunci utama dalam menciptakan harmonisasi tersebut.
Pelibatan 43 sekolah dalam kegiatan ini bukan tanpa alasan. Bobby menekankan bahwa pelajar adalah ujung tombak yang akan menentukan keberlangsungan budaya di masa depan. Melalui sosialisasi ini, pemerintah berharap muncul rasa memiliki dan tanggung jawab di kalangan siswa terhadap warisan leluhur mereka.
Di sisi lain, Bobby juga memberikan apresiasi khusus kepada Ponpes Modern Dzikir Al-Fath serta Museum Prabu Siliwangi. Kedua institusi ini dinilai konsisten menjalankan peran sebagai pusat edukasi dan benteng pelestarian budaya. Momentum ini pun terasa spesial karena bertepatan dengan Milad ke-16 lembaga tersebut.
Di akhir sambutannya, Wakil Wali Kota berharap kegiatan ini mampu menguatkan komitmen seluruh lapisan masyarakat untuk tidak meninggalkan nilai-nilai kearifan lokal.
"Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi penguat komitmen bersama dalam melestarikan budaya lokal serta mendorong sinergi berbagai pihak dalam membangun Kota Sukabumi yang tidak hanya maju secara pembangunan, tetapi juga kokoh dalam nilai budaya dan kearifan lokal," pungkasnya.(FRA)
Editor : Fikri
