BSYpTfG6GpWoBUW6GpCiGpW5BY==
Terkini
klik

Kisah Relawan Sibat Sukabumi, Dari Rasa Iba Menjadi Keahlian Menyelamatkan Nyawa

Pelatihan ini bukan sekadar tugas, melainkan panggilan hati bagi Sibat
Kisah Relawan Sibat Sukabumi, Dari Rasa Iba Menjadi Keahlian Menyelamatkan Nyawa
Para Relawan PMI dan Sibat Mengikuti Pelatihan Spesialisasi Pertolongan Pertama di Markas PMI Kabupaten Sukabumi (8/4). (Sumber : Istimewa)
KLIKSUKABUMI.COM – Markas Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Sukabumi menjadi saksi semangat kemanusiaan para relawan desa yang tergabung dalam Siaga Bencana Berbasis Masyarakat (Sibat).

Selama tiga hari, mulai dari 6 hingga 8 April 2026, mereka mengikuti pelatihan spesialisasi Pertolongan Pertama (PP) guna meningkatkan kesiapsiagaan di tingkat akar rumput.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program School and Community Resilience (SCR) yang mendapatkan dukungan dari Palang Merah Jepang. 

Fokus utamanya adalah membekali relawan dengan keahlian teknis agar mampu menjadi garda terdepan saat terjadi keadaan darurat di wilayah masing-masing.

Instruktur pelatihan dari PMI Kabupaten Sukabumi, Ivan Kusmayadi, menjelaskan bahwa para peserta yang berasal dari Korps Sukarela (KSR) dan relawan desa ini dibekali materi yang sangat krusial, salah satunya adalah Bantuan Hidup Dasar (BHD).

"Di sini diterangkan bagaimana bila seseorang mengalami henti napas, henti jantung, apa yang harus dilakukan sehingga kemungkinan untuk pulih kembali akan bisa. Hal lain yang didapat di materinya, di antaranya bagaimana mengangkut orang luka dari kondisi yang tidak aman menjadi ke tempat yang lebih aman," ujar Ivan.saat diwawancarai Kliksukabumi pada Rabu (8/4/2026).

Ia berharap, ilmu yang diserap selama tiga hari ini dapat diteruskan kepada komunitas di desa masing-masing. "Ilmu ini minimal berguna untuk diri sendiri dan masyarakat di sekitarnya," tambahnya.

Dorongan Kemanusiaan dan Pengalaman Peserta

Bagi para peserta, pelatihan ini bukan sekadar tugas, melainkan panggilan hati. Juhadi Muhammad, relawan Sibat dari Desa Cidadap, Kecamatan Simpenan, mengaku tergerak karena rasa iba melihat kejadian darurat di lingkungan sekitarnya tanpa tahu cara menolong yang benar.

"Sungguh luar biasa. Awalnya saya tidak memahami, kemudian ada wawasan dari hasil pelatihan ini sehingga merasa begitu terkesan. Dalam praktik, saya sangat terkesan saat menggunakan alat bantu seperti bidai, collar neck, hingga AED," ungkap Juhadi dengan antusias. 

Ia menyatakan siap menjadi insan yang lebih profesional dalam menolong sesama.

Senada dengan Juhadi, Siska Novilia dari Sibat Desa Cisolok merasa lebih percaya diri setelah mengikuti simulasi dan praktik langsung. 

Baginya, materi penanganan korban tidak sadar dan teknik CPR adalah bagian yang paling berkesan.

"Saya ingin memiliki kemampuan dasar untuk membantu orang lain. Sekarang saya jadi lebih percaya diri dan tidak panik saat menghadapi situasi darurat. Setidaknya saya tahu langkah awal sebelum tenaga medis datang," kata Siska.

Harapan untuk Keamanan Masyarakat

Pelatihan ini diharapkan dapat memperpendek waktu tanggap (response time) dalam memberikan bantuan medis dasar di tingkat desa. 

Dengan adanya relawan yang terampil, risiko fatalitas akibat kecelakaan atau serangan jantung mendadak di pemukiman warga dapat diminimalisir.

Para relawan berharap kegiatan serupa dapat dilaksanakan secara rutin dan menjangkau lebih banyak orang. 

Semangat yang dibawa oleh Siska, Juhadi, dan rekan-rekan Sibat lainnya membuktikan bahwa ketangguhan sebuah daerah dimulai dari kesiapan masyarakatnya sendiri.(FRA)



Editor : Fikri

Kisah Relawan Sibat Sukabumi, Dari Rasa Iba Menjadi Keahlian Menyelamatkan Nyawa
Periksa Juga
Next Post
Tautan berhasil disalin