![]() |
| Massa Aksi Membakar Ban di Depan Balaikota Sukabumi Sebagi Tanda Kemarahan Terhadap Kebijakan Pemkot Sukabumi yang Pilih Kasih (2/4). (Sumber : Istimewa) |
Aksi massa ini merupakan buntut dari penolakan izin penggunaan Lapangan Merdeka untuk pelaksanaan salat Idulfitri bagi warga Muhammadiyah. IMM menilai Pemkot Sukabumi tidak konsisten dalam mengelola aset daerah tersebut.
Ketua Umum PC IMM Sukabumi Raya, Diki Agustina, menegaskan bahwa penolakan ini menunjukkan kegagalan pemerintah dalam mengevaluasi konflik serupa yang pernah terjadi di tahun-tahun sebelumnya.
"Ini bentuk kemarahan kami. Penolakan ini menunjukkan pemerintah daerah tidak belajar dari persoalan serupa yang terjadi tahun-tahun sebelumnya," ujar Diki di sela-sela aksi.
Diki juga menyoroti ironi kebijakan di mana kegiatan yang bersifat hiburan justru mendapatkan akses lebih mudah dibandingkan kegiatan ibadah. Hal ini memicu pertanyaan besar mengenai objektivitas aturan yang berlaku.
"Mengapa agenda hiburan bisa dilakukan, tapi fasilitas publik dilarang untuk salat Id? Akhirnya, kebijakan Perwal (Peraturan Wali Kota) ini menjadi subjektif di tangan Wali Kota, bukan lagi aturan yang objektif," tegasnya.
Dialog Tanpa Solusi
Sebelumnya, pihak IMM telah berupaya menempuh jalur dialog dengan Wali Kota dan Sekretaris Daerah (Sekda). Namun, pertemuan tersebut dinilai buntu dan hanya menjadi formalitas belaka tanpa adanya perubahan regulasi yang dijanjikan.
"Dialog terkesan normatif dan tertutup. Padahal, Wali Kota sempat memastikan akan merevisi Perwal agar Lapangan Merdeka bisa memfasilitasi kegiatan keagamaan, namun kenyataannya tidak diindahkan," tambah Diki.
Ancam Aksi Lanjutan
Ketidakhadiran Wali Kota maupun Sekda untuk menemui massa aksi semakin menambah kekecewaan mahasiswa. PC IMM Sukabumi Raya menegaskan tidak akan tinggal diam dan berencana kembali turun ke jalan jika tidak ada transparansi terkait kebijakan tersebut.
"Kemarahan IMM tidak akan padam. Kami akan kembali lagi untuk mempertanyakan tanggung jawab Wali Kota dan Sekda yang hingga kini tidak nampak hadir," pungkas Diki.(FRA)
Editor : Fikri
