| Salah Satu Ruas Jalan di Desa Sukajaya Kecamatan/Kabupaten Sukabumi (Sumber : Istimewa) |
Berbekal kekayaan alam berupa bambu yang melimpah, mereka berhasil menyulap jalan sepanjang 200 meter di depan Kantor Desa Sukajaya, tepatnya di Jalan Raya Ciaul Pasir, menjadi destinasi wisata budaya yang dijuluki ‘Lembur Pakuan’ mini.
Kawasan yang dulunya merupakan jalan biasa dan sepi kini menjelma menjadi pusat keramaian. Kepala Desa Sukajaya, Deden Gunaefi, mengungkapkan bahwa ide ini berawal dari diskusi bersama penggiat desa untuk menciptakan daya tarik bagi desa mereka yang merupakan wilayah pemekaran.
"Desa ini adalah desa pemekaran, sehingga belum memiliki aset tanah desa atau daya tarik yang dapat dikunjungi warga luar. Awalnya sederhana, hanya memagar dan memperindah saja, tapi setelah dikerjakan, banyak permintaan," ujar Deden kepada Kliksukabumi Minggu (5/4/2026).
Inspirasi pembangunan ini datang dari konsep 'Lembur Pakuan' yang sempat viral di internet. Mengingat Desa Sukajaya dikenal sebagai penghasil bambu terbaik untuk kerajinan besek mochi, warga pun bergerak secara mandiri memanfaatkan material tersebut.
Proses pembangunan yang memakan waktu sekitar dua bulan ini melibatkan partisipasi aktif masyarakat, Karang Taruna, hingga perangkat desa. Sebanyak 2.000 batang bambu kombinasi jenis tali, hitam, dan gombong digunakan dalam proyek ini.
Jika dirupiahkan, nilai material tersebut mencapai Rp30 juta, yang seluruhnya didapat dari sumbangan warga.
"Saya sangat terharu, banyak warga yang menyumbang bambu secara swadaya, bahkan pengusaha menyumbang lampu dan pasir. Ini betul-betul membangun rasa kepemilikan masyarakat," jelas Deden.
Dampak Ekonomi Hingga Mancanegara
Meski pembangunannya baru mencapai 75 persen, proyek ini sudah viral di media sosial bahkan dibagikan ulang oleh Gubernur Jawa Barat dan Pemkab Sukabumi beberapa waktu lalu.
Dampaknya, wisatawan dari berbagai daerah seperti Banten hingga netizen dari Malaysia mulai memberikan perhatian.
Peningkatan kunjungan ini membawa berkah bagi ekonomi lokal. Setiap hari Minggu, perputaran uang melalui UMKM, BUMDes, dan koperasi berjalan pesat seiring banyaknya warga yang berjualan kuliner tradisional seperti cilok dan gorengan.
Salah seorang pengunjung, Heni Nur (61), mengaku terkesan dengan perubahan wajah desa tersebut.
"Sekalian jalan-jalan, bagus, tertib juga. Pak Kadesnya ramah, aktif," ungkap Heni yang mengetahui lokasi ini dari foto-foto temannya di media sosial.
Target Menjadi Kampung Film
Ke depan, warga bertekad memperpanjang kawasan estetik ini hingga 1 kilometer agar semakin nyaman bagi pelari dan pesepeda. Selain akan mendirikan kafe bertema "Tempo Dulu" dengan menu nasi liwet, Desa Sukajaya juga membidik predikat sebagai "Kampung Film".
Harapan ini bukan tanpa alasan, sebab Desa Sukajaya memiliki nilai sejarah sebagai lokasi syuting serial legendaris Keluarga Cemara. Dengan penataan yang semakin indah, mereka berharap para sineas akan kembali melirik desa ini sebagai lokasi produksi film di masa depan.(FRA)
Editor : Fikri