| Geyser Cisolok, Destinasi Wisata di Kecamatan Cisolok yang Menjadi Idola Wisatawan Dalam dan Luar Daerah Saat Musim Liburan (Sumber : Istimewa) |
Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sukabumi, Ali Iskandar, mengungkapkan bahwa capaian tersebut berasal dari pengelolaan mandiri di enam destinasi unggulan, yakni Pantai Cisolok (Geyser), Pantai Minajaya, Curug Sodong, Curug Cikaso, Pondok Halimun, dan Curug Cinumpang.
Guna menggairahkan sektor pariwisata, Dispar memberlakukan kebijakan khusus berupa diskon tarif masuk sebesar 50 persen di sejumlah Daya Tarik Wisata (DTW) unggulan. Tarif masuk per orang dipangkas menjadi hanya Rp6.000.
Ali menjelaskan bahwa promosi ini bertepatan dengan momen satu tahun pengabdian Bupati Sukabumi, Asep Japar, dan Wakil Bupati Andreas. Selain itu, momen ini dimanfaatkan untuk menguji coba sistem pembayaran digital berbasis QRIS.
“Kenapa kita memberikan diskon, karena dalam rangka satu tahun pengabdian Bupati dan Wakil Bupati, sekaligus juga penerapan pembayaran berbasis QRIS. Meskipun fakta di lapangannya masih ditemukan pembayaran dengan uang tunai karena masalah teknis seperti jaringan dan antrean panjang saat itu,” ujar Ali pada Sabtu (28/3/2026).
Data mencatat total kunjungan dalam kurun waktu empat hari, tepatnya pada 23 hingga 26 Maret 2026, mencapai 25.664 wisatawan dengan akumulasi pendapatan bruto sebesar Rp153.984.000. Dari total tersebut, Rp128 juta disetorkan ke Kas Daerah, sementara sisanya dialokasikan untuk premi asuransi pengunjung.
Destinasi Geyser Cipanas (Cisolok) menjadi lokasi yang paling banyak diminati dengan kunjungan sebanyak 8.130 orang yang menyumbang pendapatan sebesar Rp48,7 juta.
Posisi berikutnya ditempati oleh Pantai Minajaya dengan 5.902 kunjungan, disusul oleh Curug Cikaso dengan 4.119 kunjungan. Sementara itu, destinasi lain seperti Pondok Halimun, Curug Sodong, dan Cinumpang juga menunjukkan arus kunjungan yang stabil.
Meski angka ini menunjukkan geliat ekonomi, Ali mengakui adanya tantangan besar dalam sistem pengelolaan yang saat ini masih terfragmentasi atau belum terintegrasi secara kawasan.
“Jika kita bandingkan dengan daerah lain seperti Pangandaran, mereka menggunakan sistem pengelolaan berbasis kawasan. Satu toll gate bisa menghubungkan beberapa pantai sekaligus dengan satu tarif. Sistem ini membuat pendataan jumlah wisatawan menjadi real-time dan akurat," tambah Ali.
Menyikapi keluhan wisatawan mengenai pungutan liar, Ali memberikan klarifikasi tegas mengenai status kepemilikan aset. Ia menekankan bahwa laut adalah milik publik sehingga tidak ada retribusi untuk memasukinya. Tarif resmi hanya dikenakan jika wisatawan menggunakan fasilitas tambahan atau lahan pribadi.
“Target kita ke depan adalah membangun kebersamaan dan keseragaman sistem agar wisatawan merasa nyaman, mengenal aturan yang berlaku, dan tidak timbul kegaduhan. Kita ingin data riil jumlah wisatawan di seluruh titik bisa segera dirilis secara utuh melalui sistem yang lebih terintegrasi,” pungkasnya.(FRA)
Editor : Fikri