KLIKSUKABUMI.COM - Gopar (46), Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Kampung Cibolang Kidul, Desa Cibatu, Kecamatan Cisaat, Kabupaten Sukabumi, kini terbaring tak berdaya di Rumah Sakit Aster Sanad, Riyadh, Arab Saudi. Sudah satu tahun lamanya bapak empat anak ini berjuang melawan hipertensi dan komplikasi pasca operasi kanker otak.
Kondisi Gopar yang semakin memprihatinkan memicu keprihatinan sesama PMI di Arab Saudi. Yusup Saepulloh, warga Sukabumi yang mendampingi kasus ini, menyebut kondisi fisik Gopar sudah sangat terbatas.
"Awalnya Pak Gopar kena darah tinggi, lalu ada kanker otak dan dioperasi. Sekarang kakinya sudah tidak bisa berjalan dan tidak ada pergerakan sama sekali," kata Yusup, Selasa (25/8/2026).
Istri Gopar, Isoh (44), yang bekerja di majikan yang sama, hanya bisa pasrah. Isoh kesulitan merawat suaminya secara maksimal karena keterikatan pekerjaan merawat lansia milik majikannya.
"Istrinya disuruh majikannya fokus merawat lansia di rumah sakit lain. Saya miris, tidak ada kebijakan dari majikan untuk memberi waktu merawat suaminya yang terbaring sakit," ujar Yusup.
Penderitaan Gopar di perantauan ternyata sudah berlangsung lama. Sebelum jatuh sakit, ia bekerja sebagai sopir pribadi dengan upah 1.600 riyal per bulan.
Namun, gajinya kerap terlambat dibayar dan sering dipotong untuk biaya operasional kendaraan.
"Kalau pecah ban atau mobil rusak, gajinya dipotong. Padahal gajinya sering terlambat, kadang baru dibayar tanggal 20 atau bahkan awal bulan berikutnya," lanjutnya.
Meski biaya pengobatan saat ini ditanggung asuransi kesehatan resmi (Tamim), pihak keluarga sangat berharap Gopar bisa segera dipulangkan ke tanah air agar bisa dirawat secara mandiri oleh keluarga.
Satu-satunya ganjalan utama pemulangan Gopar adalah sikap majikan yang menolak menanggung biaya kepulangan sebesar 27.000 riyal (sekitar Rp113 juta) karena dinilai terlalu mahal.
"Saya sudah lobi pihak KBRI, tapi majikan tetap tidak sanggup bayar ongkos pulang 27.000 riyal. Istrinya sangat ingin suaminya dipulangkan agar bisa melanjutkan pengobatan di Indonesia," tutur Yusup.
Kini, harapan terakhir keluarga sepenuhnya bergantung pada respons dan bantuan dari Pemerintah Indonesia serta otoritas terkait di tanah air. (FRA)
